Oleh: Sugiman
Pendahuluan
Surat 1 Timotius 2:8-15 adalah salah satu perikop Alkitab yang sering digunakan atau dikutip oleh gereja-gereja tertentu yang dijadikan dasar sebagai pembatas antara laki-laki dan perempuan, khususnya dalam kepemimpinan gereja itu sendiri. Memang harus diakui, tidak semua gereja demikian. Namun hingga saat ini pun hal itu masih menjadi perdebatan, misalnya perempuan tidak boleh naik mimbar, tidak boleh menjadi pemimpin atau “mengatur” laki-laki. Alasannya adalah, kedudukan perempuan lebih rendah dari laki-laki, oleh sebab itu muncullah “teori peminisme”. Maka dalam paper ini kita akan melihat mengenai ajaran etis Paulus tentang perempuan dalam 1 Tim 2:8-15.
Pembahasan
a) Latar belakang historis
Siapa penulisnya 1 Timotius dan kapan ditulis, ternyata masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Ada pendapat, surat ini ditulis oleh Paulus di Makedonia (1 Tim 1:3) sekitar tahun 63 M, yaitu setelah dia dibebaskan dari tahanan di Roma atau antara tahun 60 dan 64 . Ahli yang lain berkisar antara tahun 60 dan 64 M. Namun Walter Lock, membantah karena menurutnya bukti-bukti yang diajukan di atas tidak mencukupi untuk memastikan Paulus sebagai penulisnya. Dilihat dari strukturnya, tema-tema yang dibahas, gaya bahasanya dan pemikiran dalam isi surat juga tidak berurutan secara teratur serta seperti surat-surat Paulus yang otentik. Linguistik yang berbeda dengan surat-surat Paulus yang lainnya kecuali surat pastoral. Misalnya ada frasa “pistos o logos” (1 Tim 1:15; 3:1; 4:9; 2 Tim 2:11; Titus 3:8); dari segi ungkapan teologis penggunaan kata “epiphaneia” artinya “penyataan” dari kata kerja epiphane. KJV, NIV dan RSV menterjemahkannya dengan “appearing, appearance, epiphany” (1 Ti 6:14; 2 Tim 1:10; 4:1, 8; Tit 2:13). Kata epiphane tidak hanya untuk kedatangan Yesus kembali, tetapi juga untuk kehadiran-Nya di dunia. Jika demikian bagaimana kita dapat menjelaskannya? Paling tidak ada tiga alasan untuk menjelaskan perbedaan di atas: pertama, para ahli berpendapat bahwa bukan Paulus sendiri yang menulisnya melainkan sekertarisnya (amanuensis) sehingga agak bebas dan berbeda dengan tulisan-tulisan Paulus terdahulu; kedua, pendapat mayoritas bahwa surat ini memakai nama Paulus sebagai nama samaran (pseudonim), dengan maksud untuk menyembunyikan identitas penulis yang sebenarnya. Cara demikian adalah lazim saat itu, dan kemungkinan penulisnya pernah ditolak oleh masyarakat atau jemaat, maka supaya pemikirannya bisa diterima, ia mengunakan nama Paulus. Otoritas Paulus dipakai untuk membantu para pemimpin jemaat lokal mengatasi penyusupan bidat-bidat di dalam jemaat itu sendiri; ketiga, merupakan pendapat minoritas, (termasuk di antaranya adalah Howard Marshall), bahwa surat ini bersifat allonium, artinya mereka ditulis oleh orang lain, bukan penulis yang dinyatakan di dalam surat (Paulus). Pertanyaannya, apakah ini bertujuan untuk “mengelabui” pembacanya? Kami rasa tidak, karena yang disampaikannya adalah ajaran Paulus yang telah diadaptasikan oleh “kelompok Paulus” sesudah kematiannya. Maksud dari kelompok Paulus ini atau murid-muridnya yang setia atau rekan sekerjanya bukan untuk mengelabui, tetapi untuk menyediakan materi inti ajaran Paulus dalam bentuk yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan jemaat-jemaat saat itu dalam menghadapi bahaya ajaran sesat.
Walter L. Liefeld mungutip pendapat D.N. Berdot pada tahun 1703 dan diikuti oleh Paul Anton mengatakan bahwa surat 1 Timotius tidak ditujukan kepada jemaat, melainkan secara pribadi yaitu kepada Timotius dalam rangka memberi tanggung jawab untuk mengembalakan jemaat dan mengangkat gembala-gembala jemaat, terutama untuk menghadapi ancaman ajaran sesat yang telah mempengaruhi jemaat. Karena bagaimana pun juga Timotius sangat dekat dengan Paulus. Jadi tujuan dari surat pastoral ini adalah untuk menguatkan para pemimpin jemaat dalam menghadapi guru-guru palsu dengan ajaran sesatnya yang telah menyusup ke dalam jemaat dan menganggu ketenangan. Jemaat membutuhkan tuntunan dan harus ditolong. Oleh sebab itu, harus mengajarkan ajaran yang benar, hidup dalam kekudusan dan tata gereja yang kokoh. Indikasinya adalah kemungkinan yang terpengaruh oleh ajaran sesat yang menyusup di dalam jemaat itu adalah sebagian dari para pemimpin. Tujuan lain adalah perlunya gereja meneruskan tradisi pengajaran Paulus. Dengan demikian kita melihat bahwa surat 1 Timotius memuat tiga tema umum yang walaupun tidak dalam urutan yang sistematis:
1. Ajaran yang benar dan yang salah
Ajaran yang benar dan yang salah ini dibahas dalam tiga bahasan yang tidak berurutan: pertama dalam 1Tim1:3-20 disebutkan beberapa ajaran sesat dengan ciri-ciri dari pengajarannya, yaitu membahas (a). “Dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya” (1:3-4); (b). Mengenai ajaran yang menyimpang dari “kasih, hati nurani yang murni dan iman yang tulus ikhlas” (1:5); dan (c). Pengajaran hukum Taurat yang tanpa pengertian (1:6-7). Ternyata para guru palsu menggunakan dan berusaha menerapkan hukum Taurat untuk kepentingan sendiri (bnd. 1:8). Maka Injil kebenaran itu adalah berasal dari Allah (1:8-11). Paulus menegaskan esensi yang mendasar dari Injil ini melalui kasaksian hidupnya sebelum ia bertobat dan mengenal Yesus (1:12-14), secara pribadi Paulus telah merasakan penyelamatan Kristus atas hidupnya yang berdosa. Hanya karena kasih dan anugerah-Nya ia diselamatkan-Nya. Bahkan ia merasa bahwa dosanyalah yang paling besar dari semua orang, namun tetap dikasihani oleh-Nya (1:15-17). Kedua, dalam 1 Tim 3:14-4:10 dilanjutkan kembali mengenai ajaran sesat, yaitu menurut asketis dengan melarang orang menikah dan memakan makanan tertentu. Maka Paulus menentang ajaran ini dan mengatakan bahwa semua yang diciptakan oleh Allah adalah baik adanya dan tidak ada yang haram jika diterima dengan ucapan syukur (3:4-5).
2. Perilaku di dalam persekutuan Kristen
Dalam bagian ini sangat menekankan perilaku yang seharusnya bagi orang percaya dalam kehidupan sehari-hari, supaya relasi tetap terjaga dengan baik dalam persekutuan jemaat (4:11-5:2; 5:22b-23; 6:11-14). Perilaku itu mencakup relasi-relasi: (a). Hidup sebagai orang Kristen yang sekaligus menjadi warga negara yang baik, yakni tidak menimbulkan kekacauan, kecurigaan terhadap pemerintah Romawi atau masyarakat yang bukan Kristen (2:1-2). (b). Relasi dalam ibadah jemaat antara laki-laki dan wanita, termasuk diantaranya adalah cara berpakaian (2:8-15). (c). Relasi antara budak dengan tuannya (6:1-2a). (d). Dan yang terakhir adalah relasi Timotius dengan mereka yang seusia dan yang lebih tua darinya (4:11-5:2) (bnd. John Drane, 396). Dari penjelasan di atas menunjukan, betapa pentingnya relasi dan prilaku Kristiani untuk mencerminkan Kekristenan yang sesungguhnya karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya ( lht. 2 Tim 3:10-4:8; bnd. Roma 1:16). Relasi adalah bagian dari kesaksian hidup orang Kristen terhadap semua orang, yang dipancarkan lewat teladan atau prilaku yang baik bagi semua orang yang mereka layani (1 Tim 6:11-21); berani membela kebenaran (2 Tim 2:1-26). Melalui semuanya itu orang lain diberi kesempatan untuk memperoleh “keselamatan, pengetahuan akan kebenaran” dan mengenal-Nya (2:3-7).
3. Mengenai tata Gereja
Ada empat kelompok yang memegang peranan penting dalam komunitas Kristen pada masa itu: (a). Episkopos, yaitu sebagai penilik jemaat; (b). Diakonos atau diaken (c). Janda (chera) (1 Tim 5:3, 4, 5, 6, 9, 15, 16); dan (d). Presbyteros, yaitu penatua. Syarat-syarat bagi penilik jemaat dan diaken adalah mencakup karakter pribadi, kehidupan rumah tangga dan keluarga serta kesaksian imannya dalam kehidupan sebagai umat Kristiani dan warga Negara yang tidak membuat onar atau kerusuhan.
b) Pembahasan teks 1 Timotius 2:8-15 dan pejelasannya
Dalam 2:1-7 Paulus bebricara mengenai doa yang ditujukan kepada kelompok (jemaat), namun di sini, yaitu dalam ayat 8 Paulus membahas doa yang berorientasi di dalam keluarga.
“Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan” (2:8).
Ayat 8 diawali dengan frasa “Oleh karena itu aku ingin”, yang menunjuk kepada kebiasaan-kebiasaan orang Yahudi ketika berdoa, yaitu mengadahkan tangannya tetapi Allah memalingkan muka-Nya dan tidak mau mendengarkan doanya karena tangan mereka penuh dengan darah (Yes 1:15). Kemungkinan besar mereka yang mengajarkan ajaran yang tidak sehat, adalah suka berdoa dengan mengadahkan tangan yang sia-sia dan hanya bersifat formalitas belaka karena tujuan mereka adalah untuk menyesatkan. Maka dari itu Paulus menambahkan “berdoa dengan tangan yang suci”. Di sini kita melihat ada hal-hal tertentu yang dituntut, yaitu kesungguh-sungguhan dalam berdoa. Frasa “tangan yang suci” menunjuk kepada perbuatan yang seharusnya, yang berkenan dan menjadi berkat bagi semua orang. Nasihat ini terutama ditujukan kepada semua laki-laki yang menjadi pemimpin dalam jemaat pada masa itu. Tujuannya supaya mereka berbeda dengan cara atau kebiasaan berdoa yang kosong. Sedangkan frasa “tanpa marah dan tanpa perselisihan”. Kata yang diterjemahkan LAI: “perselisihan” adalah “dialogismou” dari kata “dialogismos”, yang berarti “pertengkaran atau keraguan”. Ini menunjuk kepada sikap hati yang harus benar-benar tenang, hening saat berdoa. Oleh sebab itu Yesus mengatakan “apabila engkau mempersembahkan persembahan, terlebih dahulu berdamailah dahulu dengan saudaramu” (Mat 5:23, 24).
Bagian selanjutnya adalah ayat 9-15 yang berkenaan dengan kedusukan perempuan dalam jemaat. Untuk memahami teks ini tidak bisa terlepas dari konteksnya, karena erat kaitannya dengan situasi / konteks saat itu. Teks ini ditulis dan disampaikan Paulus untuk melawan kebiasaan-kebiasaan orang Yahudi yang keliru memahami Taurat. Hukum Taurat dijadikan alat untuk mendukung argumentasi bahwa kedudukan wanita itu lebih rendah, dan hal yang sama juga terjadi dalam agama Yunani. William Barclay mengatakan:
“Dalam kebudayaan Yahudi wanita tidak dianggap sebagai pribadi, melainkan sebagai sebuah barang” (William Barclay, 106)
Dalam Saying of the Fothers, Rabi Josc ben Johanan mengutip sebuah perkataan: “Biarkan rumahmu terbuka lebar-lebar dan orang-orang miskin menjadi anggota keluargamu, serta janganlah terlalu banyak bercakap dengan wanita.” Dikatakan lagi, bahwa “seorang rabi yang keras tidak pernah memberi salam kepada wanita, bahkan kepada isteri dan saudara-saudaranya yang perempuan”.
Jika kita perhatikan ayat 9-10 dimulai dengan kata “Hosautos”, RSV: “also”, KJV: “manner”: “cara, gaya atau sikap” tapi juga bisa dengan “Likewise” LAI: “demikian juga”. Kata “Hosautos” tidak hanya menujuk pada sebuah cara dan sikap yang seharusnya bagi kaum wanita, tetapi lebih jauh lagi, yaitu bahwa kedudukan perempuan dan laki-laki adalah sederajat. Hanya cara mengekpresikannya yang berbeda, yakni laki-laki melalui aktivitas dan wanita melalui penampilannya. Kesederhanan merupakan perilaku, cara atau sikap yang sangat umum pada masa itu. Oleh sebab itu, nasihat ini dilontarkan penulis supaya jangan memakai perhiasan emas dan pakaian yang mahal. Kemungkinan ini ditujukan kepada wanita-wanita kaya yang menggunakan berbagai perhiasan dan mengenakan pakaian yang mahal, kemudian berusaha terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat. Dalam hal ini tidak berarti wanita dilarang menggunakan busana yang indah, perhiasan-perhiasan yang mahal, tetapi yang terpenting adalah keindahan batin atau “berdandan dengan perbuatan baik, seperti layaknya perempuan yang beribadah” (2:10).
Selanjutnya ayat 11-14, dalam bagian ini terlihat sangat tegas, keras dan tajam, bahwa wanita harus berdiam diri, patuh, tidak boleh mengajar, tidak boleh memerintah laki-laki pokoknya harus tunduk, karena wanita yang terlebih dahulu berdosa. Paham demikianlah yang dianut oleh tradisi Yahudi dan Yunani. Mengapa? para ahli mengatakan bahwa di Korintus terdapat kuil Aphrodite yang didiami oleh ribuan imam wanita yang menjadi pelacur suci dan menjajakan diri dilorong-lorong pada malam hari. Demikian juga di Efesus terdapat kuil Diana yang memiliki ratusan imam wanita yang disebut Melissae, yang artinya “kawanan lebah” yang berfungsi dan berprofesi sama dengan wanita-wanita di Korintus. Bagi orang Yahudi, wanita yang layak dalam ibadah jemaat adalah wanita yang harus menundukan diri kepada hukum Taurat, yaitu: penurut, tidak memerintah, berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh, maka itulah wanita yang beribadah. Sedangkan Yunani, wanita terhormat hidup dengan sangat membatasi diri, bahkan ia tinggal ditempat yang tidak seorang pun bisa datang, kecuali suaminya. Sedangkan wanita Kristen saat itu aktif dalam pertemuan umum dan ikut dalam percakapan-percakapan. Oleh sebab itu, gereja dianggap sebagai tempat perlindungan wanita-wanita nakal. Maka kata “seharusnya” di ayat 11 dibenarkan dalam konteks itu, namun tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan kedudukan perempuan seperti yang tertulis dalam ayat 13-14.
Kembali kita melihat kata “authenteo” dalam ayat 12, yang diterjemahkan “to govern, exercise authority” KJV menterjemahkan “to usurp authority”, namun George W. Knight segera membantah bahwa terjemahan KJV keliru (evidently erroneous), menurut dia yang benar adalah “to have authority” . Tahun 1979 Cathrine C. Kroeger menegaskan bahwa kata “authenteo” berkaitan dengan erotic. Selain itu Osburn menterjemahkannya dengan “to dominate or domineer”. Maka dapat kita katakana bahwa kata “authenteo” berarti memerintah yang melebihi batas normal atau yang tidak sewajarnya, yaitu untuk memerintah dan menguasainya. Sebenarnya ayat 11-14 adalah untuk menentang ajaran-ajaran dan tradisi Yahudi dan Yunani yang berusaha merendahkan kedudukan perempuan. Perhatikan ayat 14 “bukan Adam yang tergoda dan yang pertama jatuh dalam dosa, melainkan Hawa”. Tradisi ini sering dipakai sebagai penguat argument-argumen yang ingin menyatakan bahwa wanita lebih rendah dari laki-laki. Ayat ini pun sering disalahpahami oleh orang-orang Kristen atau sebagian Gereja-gereja Tuhan dewasa ini, terutama gereja-gereja yang melarang dan membatasi aktifitas wanita dalam berjemaat. Bisa dikatakan bahwa ini adalah kekeliruan yang terulang kembali atau kesalahan yang dibenarkan karena kesombongan. Pertanyaannya di mana letak kesombongannya? Jika diperhatikan baik-baik ayat 14 ini, maka kita akan menemukan kesombongan yang dilakukan oleh mereka yang menganggap dirinya tidak berdosa.
Kemudian ayat 15 dengan jelas Paulus mengangkat kedudukan perempuan bahwa ia akan diselamatkan kerena melahirkan anak. Dalam tradisi Yahudi seorang anak adalah pawaris terutama bagi anak laki-laki. Sedangkan dalam kebudayaan Yunani wanita yang tidak mempunyai anak dianggap kena kutukan. Ini bertujuan untuk melawan ajaran yang melarang orang kawin (1 Tim 4:3). Maka jelaslah bagi kita bahwa Paulus tidak sedikit pun bermaksud untuk merendahkan kedudukan wanita dalam bagian teks ini.
Kesimpulan
Dalam memahami teks 1 Timotius 2:8-15 para ahli berpendapat:
“In Paul’s understanding men and women, while equal in value and importance before the Lord, were not regarded as unisex components with swappable function in home and church”.
Dengan demikian kita menyimpulkan bahwa apa yang ada dalam pemahaman atau pikiran Paulus bukanlah untuk memandang kedudukan perempuan lebih rendah dari laki-laki, melainkan untuk melawan ajaran sesat yang menyusup dalam jemaat Kristen saat itu. Apa saja bentuk atau ciri-ciri ajaran sesat itu: (a). “Dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya” (1:3-4); (b). Ajarannya menyimpang dari “kasih, hati nurani yang murni dan iman yang tulus ikhlas” (1:5); dan (c). Pengajaran hukum Taurat yang tanpa pengertian (1:6-7), serta larangan terhadap perkawinan (3:14-4:10). Untuk memahami teks ini tidak boleh dilepaskan dari konteksnya seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa sebagai wanita yang beribadah bagi tradisi Yahudi adalah wanita tunduk terhadap laki-laki, penurut, tidak memerintah, berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh sesuai dengan hukum Taurat. Sedangkan bagi orang Yunani, wanita terhormat hidup dengan sangat membatasi diri, bahkan ia tinggal ditempat yang tidak seorang pun bisa datang, kecuali suaminya. Di samping untuk menentang ajaran yang memandang rendah kedudukan perempuan, teks ini juga disampaikan untuk menghindari tuduhan-tuduhan yang tidak benar terhadap orang-orang Kristen saat itu.
Alasan lain adalah untuk membuktikan bahwa orang Kristen juga bisa hidup sebagai warga Negara yang baik: tidak menimbulkan kekacauan, kecurigaan terhadap pemerintah Romawi atau masyarakat yang tidak Kristen (2:1-2). Demikian juga relasinya dengan laki-laki terutama dalam hal cara berpakaian (2:8-15), berdandan dengan pantas, sopan dan sederhana (memakai perhiasan yang mahal-mahal sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu. Artinya, kita melihat di sini, yaitu pentingnya relasi dan prilaku Kristiani yang baik serta memahami orang sesuai konteks.
KEPUSTAKAAN
Barclay, William. Pemahaman Alkitab Setiap Hari, Surat 1 Dan 2 Timotius, Titus, Filemon (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 2001
Budiman, R. Tafsiran Alkitab Surat-Surat Pastoral 1 & 2 Timotius Dan Titus (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 1994.
Campbell, K.M. ed., Marriage And Family In The Biblical World (Downers Grove, IL: InterVarsity), 2003.
Drane, John. Memahami Perjanjian Baru – Pengantar Historis – Teologis (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 2006
Erdman, Charles R. The Pastoral Episles Of Paul (Philadelphia: The Westminster Press, 1929)
Gorday, Peter. Ancient Christian Commentary On Scriptur – New Testament IX Colossians, 1-2 Thessalonians, 1-2 Timothy, Titus, Fhilemon (Dowrner Grove, Illionis: InterVarsity Press, 2000.
Groenen, C. Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 2000.
Hess, R.S. and M. D. Carroll., eds., Family In The Bible (Grand Rapids: Baker), 2003.
Houlden, J.L. The Pelican New Testament Commentaries - The Pastoral Epistles, 1 And 2 Thimoty, Titus (Penguin Books), 1976.
Kostenberger, Andreas J. And Thomas R. Schriner, Women In The Church – Analysis And Application Of 1 Timothy 2:9-15 (second Edition), (Grand Rapids, Michig: Baker Academic), 2005.
.with D. Jones, God, Marriage, And Family (Wheaton: Crossway), 2004.
Kroeger, C. C. Ancient Heresies And A Strange Greek Verb, Reformed Journal No. 29 1979.
Liefeld, Walter L. 1 & 2 Timothy, Titus, The NIV Application Commentary (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House), 1999.
Lock, Walter. A Critical And Exedetical Commentary On The Pastoral Epistles – I & II Timothy And Titus (Edinburgh: T.& T. Clark, 38 George Street), 1936.
Rolston, Holmes. The Layman’s Bible Commenraty 1-2 Thessalonians, 1-2 Timothy, Titus Philemon (Richmond, Virgina: John Knox Press, 1967.
Torrance, David W., Thomas F. Torrance. Calvin’s Commetaries – The Second Epistle Of Paul The Apostel To The Corinthians And The Epistles To Timothy, Titus And Philemon (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company), 1991.
Para pembaca yang bidiman, mengingat bahwa blog saya yang satu ini sudah jarang dibuka, jika para pembaca ingin membaca tulisan-tulisan saya yang lain, maka silahkan kunjugi website saya yang lain berikut ini: www.akudankal-bar.blogspot.com dan www.kompasiana.com/sugiman. Terima Kasih dan selamat membaca.
Selasa, 09 Februari 2010
NILAI HIKMAT LEBIH MAHAL DARI EMAS DAN PERAK
NILAI HIKMAT LEBIH MAHAL
DARI EMAS DAN PERAK
(Amsal 8:10-11)
Oleh: Sugiman
Pendahuluan
Pada zaman Perjanjian Lama emas pilihan dan perak sudah dikenal sebagai suatu benda yang bernilai tinggi atau mahal nilainya dan bahkan hingga saat ini. Pada masa raja Salomo dan sesudahnya, terutama pada masa pembuangan di Babilonia emas pilihan yang terbaik dan mahal harganya berasal dari Ofir yang terkenal sebagai tempat penghasil emas murni, permata dan perak yang mahal harganya. Ofir terletak di barat daya Arabia di pantai Afrika Timur laut. Emas Ofir juga sering disebut dalam kitab ( 2 Taw. 8:18; Ayub 22:24; 28:16; Maz. 45:9 dan Yes.13:12; 1 Raj. 9:28Maz. 45:10, Ay.28:16. Emas itu diimpor ke Yehuda pada masa Salomo. Ketika Yehuda terjepit saat Asyur berkuasa pada masa pemerintahan Uzia hingga pada masa raja Hizkia maupun sesudahnya, emas juga menempati posisi yang sangat penting. Banyak raja Yehuda yang membayar upeti kepada Asyur dengan emas yang ada di Bait Suci di Yerusalem. Namun penulis Amsal menyajikan atau memperlihatkan suatu pernyataan yang sangat kontras atau berbeda seperti yang dipahami oleh umat Israel. Ternyata ada yang lebih mahal nilainya emas-emas pilihan atau emas murni dan perak, yaitu hikmat. Oleh sebab itu dalam paper ini akan melihat dan menganalisis mengapa penulis Amsal mengatakan bahwa hikmat lebih mahal nilainya dibandingkan dengan emas dan perak.
Pembahasan
a. Latar Belakang Kitab Amsal
Kitab Amsal adalah suatu kitab yang termasuk dalam kumpulan “sastera hokmah” (hikmat) dalam Perjanjian Lama. Kitab ini berasal dari penulis tertantu di samping kitab hikmat yang lainnya (Ayub dan Pengkhotbah). Sangat penting untuk diketahui bahwa Amsal adalah kumpulan sastera yang mewakili hikmat tradisional. Jika kita mengatakan kitab ini mewakili hikmat tradisional, maka hikmat itu sendiri sudah dikenal secara meluas di dunia Timur Tengah Kuno. Artinya tidak hanya di Israel sastra hikmat ini dikenal tetapi juga di luar Israel, seperto di Babel, Asyur dan bahkan di dunia Mesir kuno, seperti “pengajaran-pengajaran Ani” dan “disiplin Amenemope” (ANET 421-424) yang ditulis sekitar tahun 800 sM. Sastera hikmat (kebijaksanaan) juga merupakan bahagian dari kehidupan rohani dan kebudayaan yang sangat dihargai dan tidak terpisahkan. Oleh sebab itu tidak heran jika kadang-kadang Amsal ini bercorak keduniawian dan kadang-kadang kerohanian. Bangsa-bangsa non-Israel menganggap bahwa hikmat berasal dari para dewanya masing-masing, yang berisikan kesenian, teknik dan ilmu teoritis serta etika. Konsep pemahaman hikmat di Israel dengan bangsa non-Israel jelas memiliki perbedaan yang tajam. Bagi bangsa bangsa non-Israel hikmat adalah berasal dari para dewa, tetapi bagi bangsa Israel hikmat berasal dari YHWH dan Dialah dasar hikmat yang sesungguhnya, maka kata “Takut Akan Tuhan” menjadi sangat penting bagi orang bijaksana di Israel.
b. Siapa Penulisnya dan kapan?
Mengenai siapa penulis kitab Amsal ternyata menjadi perdebatan yang tidak terpecahkan di kalangan para ahli. Hingga saat ini pendapat itu masih bercabang dua. Yang lain mengatakan bahwa penulis kitab ini adalah raja Salomo karena namanya disebutkan sebanyak tiga kali: (1:1, 10:1 dan 25:1). Yang lain lagi mengatakan bukan Salomo penulisnya, karena pengarang kitab ini menggunakan terjemahan Yunani Septuaginta dari kitab-kitab Perjanjian Lama . Artinya pemakaian nama Salomo di atas tidak berarti dia yang menulisnya, tetapi bisa jadi ditulis oleh orang lain pada masa yang lebih kemudian dengan menggunakan nama raja Salomo. Karena cara-cara seperti itu sudah lazim dan biasa diterapkan saat itu. Namun demikianpun tidak berarti kita menyangkal Salomo sebagi penulis sebagian dari kitab ini. Tapi itu pun tidak bisa dipastikan, sebab apakah itu memang berasal dari Salomo atau berasal dari masa Salomo (Blommendaal, 1996 : 154). Sedangkan pasal 1-9 adalah berasal dari masa yang lebih muda atau sesudah pembuangan di Babilonia. Karena pengaruh nabi-nabi besar sangat terasa, seperti Yeremia, Deutero-Yesaya dan lebih khusus lagi Deuteronomium. Karena pasal 1-9 ditambahkan kemudian oleh seseorang yang tidak dikenal, maka nama Salomo yang digunakan hanyalah sebagai samaran supaya pemikirannya yang dituangkan dalam bentuk tulisan dapat diterima oleh pembacanya saat itu. Kemungkinan pengarang kitab Amsal sendiri ditolak dalam komunitasnya dan tidak dipercayaai lagi karena perkataan dan kesaksian hidupnya, yaitu melalui perkataan dan perbuatannya. Oleh sebab itu ia menggunakan nama raja Salomo yang sudah dikenal luas sebagai seorang berhikmat saat, sehingga tanpa ada bantahan dari pembacanya. Ketika orang mendengar nama Salomo, maka siapa yang bisa membantah perkataannya.
Mungkin yang lebih cocok diarahkan kepada Salomo sebagai pengarangnya adalah pasal 10-29 yang berasal dari masa raja-raja, karena memuat tentang penghormatan dan pujian kepada raja-raja (16:10, 12 dst.; 20:8, 26, 28; 21:1; 22:11; 25:2 dst). Lebih jauh lagi bahwa pasal 25 ini dilatarbelakangi kehidupan pertanian (25:13 dst, 23; 27:23dst, 28:3). Weiden mengatakan bahwa kitab Amsal ini terdiri (9) koleksi. Artinya jelas bahwa kitab Amsal tidak disusun sekaligus oleh seseorang atau sekelompok orang, melainkan sedikit demi sedikit dikumpulkan hingga menjadi satu kitab seperti yang kita kenal saat ini. Yang menjadi masalah dalam perdebatan para ahli adalah berkisar “kapan kitab ini ditulis”. Blommendaal (1996:154) mengatakan memang pada umumnya para ahli mengatakan kitb ini berasal dari masa pembuangan di Babilonia. Namun hal ini tidak dapat dibuktikan karena tidak ada bukti-bukti atau petunjuk yang jelas kapan masa penulisannya. Weiden, (1990 :15-17) mengandaikan, kemungkinan penulisnya adalah seorang Yahudi helenis, yang saleh dan setia pada Taurat Yahudi yang hidup di Mesir khususnya di kota Alxanderia. Maka penyusunan kitab ini diperkirakan sesudah diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, yaitu sesudah tahun 200 sM. Karena pengarang sendiri menggunakan terjemahan Yunani Septuaginta, sehingga isi kitab ini sangat kuat dipengaruhi bahasa Yunani. Inilah yang menjadi alasan bahwa Salomo bukanlah penulisnya, tetapi pemakaian nama Salomo hanyalah sebagai samaran supaya pengajarannya dapat diterima oleh pembacanya saat itu. Selain itu juga ditemukan nama Agur (30:1) dan Lemuel (31: 1, 4), yang kemungkinan bukan dari orang Israel, tetapi dari bangsa sekitar Israel (bnd. Isak Roedi, Catatan kuliah, Cipanas, 2009). Karena pada umumnya sastera hikmat itu sendiri tidak mempunyai hubungan dengan sejarah Israel. Sehingga wajar jika perbuatan-perbuatan besar Allah dalam sejarah Israel tidak dibicarakan dalam kitab ini. Namun ada satu pernyataan bijak yang diungkapkan oleh Blommendaal (1996: 153), yaitu meskipun perbuatan-perbuatan Allah tidak dibicarakan di sini, tetapi yang lebih penting dalam kitab ini adalah bagaimana orang bisa hidup sebagai orang yang baik dan saleh menurut kehendak Allah.
c. Apa itu hikmat?
Menurut Isak Roedi, hikmat adalah keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup atau petunjuk praktis untuk hidup sehari-hari. Barnabas Ludji mengatakan “hikmat adalah suatu kualitas intelektual atau pemikiran manusia yang mampu membedakan hikmat manusia dengan segala kebijakannya serta membawa manusia kepada keberhasilan hidup”. Browning mengatakan yang hikmat adalah petunjuk hidup praktis yang menuntun seseorang bisa mengatur hidupnya dengan baik sehingga hidupnya memiliki tujuan yang jelas. Jika kita melihat pengertian dari “hokma” adalah “kemampuan intelektual”. Namun Hikmat tidak identik dengan pengetahuan-intelektual, tetapi mempunyai kaitan dengan kecerdasan intelektual (Ams. 1:4). Karena fokus hikmat tidak terletak di sana (lht. Catatan kuliah studi Amsal, 2009). Lebih jauh Paulus mengatakan bahwa hikmat adalah kebenaran hidup dan itu bukan sesuatu yang abstrak dan juga bukan hanya sekedar tahu tetapi lebih dari itu, yaitu saat melakukan sesuatu (14:4; 31). Menurut Tremper Longman III ( 2007 : 6-7), hikmat adalah kunci untuk bisa berhasi di dalam hidup. Karena banyak konsep hikmat dalam kitab Amsal mirip kecerdasan emosional yang disebut dengan EQ bukan IQ yang berkonotasi langsung dengan kesuksesan di dalam hidup. Hikmat adalah anugerah Allah yang diberikan-Nya kepada manusia untuk mempu menjalani hidup ini sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya. Jika hikmat di katakan sebagai anugerah Allah yang diberikan kepada manusia, maka tidak ada hikmat yang dihasilkan oleh manusia.
Christoph Barth mengatakan bahwa hikmat erat kaitannya dengan karya penyelamatan yang dilakukan Allah atas umat Israel. Para raja yang diangkat-Nya diberikan hikmat supaya mempu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, dan mendatangkan syalom (damai sejahtera) atas rakyatnya serta seluruh umat Israel yang terpanggil harus hidup dengan hikmat dan kebijaksanaan. Selain itu, Yesaya 33:6 mengatakan bahwa hikmat (hokhmah) dan pengetahuan (da’at) takut akan YHWH, itulah adalah kekayaan yang menyelamatkan, dan itulah kekayaan Sion. bagi mereka supaya mengajarkan untuk memerintah mereka mengajar mampu memerintah dengan hikmat yang telah diterima, untuk membebaskan atau menyelamatkan umat-Nya dari penindasan, ketidakadilan. Allah ingin mereka mendatangkan damai sejahtera bagi umat-Nya. Oleh sebab itu tidak heran, bahwa banyak para raja atau para pemimpin Israel yang dikecam oleh para nabi Tuhan karena tidak mendatangkan damai sejahtera bagi umat-Nya dan itu jelaslah bukanlah hikmat, sebab hikmat dari Allah tidak pernah bekerja sama dengan ketidakadilan, penindasan, pemerasan, kekerasan dan bentuk kejahatan lainnya.
Dari semua penjelasan di atas dapat kita simpulkan, bahwa hikmat adalah suatu kualitas kecerdasan intelektual yang diberikan Allah kepada manusia, yang lebih tinggi nilainya dari kemampuan intelektual itu sendiri, yang mengatur jalan hidup manusia sehari-hari secara praktis dan terampil, serta yang mambawa manusia kepada keberhasilan hidup untuk kemuliaan-Nya. Hikmat selalu bersahabat dengan kebenaran, berpihak kepada realitas dan mendatangkan benih-benih kehidupan bukan kematian.
d. Ciri-ciri Umum dari Hikmat Israel
Sebelum melihat perbedaan yang sangat tajam antara pengajaran hikmat di Israel dengan pengajaran hikmat dari bangsa-bangsa non-Israel. Maka ada baiknya terlebih dahulu kita melihat apa yang menjadi ciri-ciri dari hikmat Israel:
1. Pengajaran hikmat itu sendiri didasarkan pada “takut akan Tuhan”. Ini tidak hanya sekedar ungkapan, tetapi merupakan inspirasi yang berasal dari Allah yang kemudian terungkap melalui kata-kata orang berhikmat yang hidup takut akan Tuhan. Kata-kata yang keluar memberikan kehidupan bukan kematian, selanjutnya pendengarnya merasa disembuhkan dan bukan dilukai.
2. Pengajaran hikmat itu selalu ditujukan kepada personal (perorangan). Sebutan istilah “anakku” dalam kitab Amsal muncul 23 kali, “anakmu” 3 kali dan “anaknya” juga 3 kali. Sapaan ini begitu pribadi dengan maksud memberikan didikan, disiplin, pengajaran dan binaan supaya menjadi seorang yang “bijak” sejati. Menjadi orang bijak sejati, memang bukanlah perkara yang gampang, tetapi itu adalah sebuah proses supaya seseorang bisa bertanggung jawab secara pribadi atas hidupnya dan mampu memilih jalan hidupnya sendiri.
3. Pengajaran hikmat itu mengingatkan orang untuk membedakan antara dua macam sikap dan perilaku orang yang bertentangan: yang baik dan benar, bijaksana di satu pihak, yang buruk dan salah dan bebal di pihak yang lain. Guru hikmat memberikan petunjuk-petunjuk hidup praktis yang saling terpisah satu sama lain (tidak dirangkai dengan urutan atau sistem yang nyata, melainkan mengajak si murid untuk menimbang, kemudian menarik kesimpulan sendiri. Tetapi dalam pengajaran hikmat itu sendiri juga mengandung tujuan yang khusus.
4. Pengajaran hikmat selalu dikemukakan dengan penuh keyakinan dan wibawa. Dalam proses penyampaian guru hikmat tidak menyampaikan pengeharan atas nama dan wewenang sendiri, karena mereka lebih menghormati seorang raja (Ams. 24:21), namun tidak berarti juga ia mengajarkan apa yang diperintahkan raja. Sebab seorang raja juga harus dipimpin oleh hikmat untuk bisa memimpin dengan baik (8:15; 20:28).
5. Pengajaran hikmat dipersonifikasikan. Ini merupakan suatu usaha untuk menjelaskan pemikiran-pemikiran oran Ibrani yang abstrak dengan pemikiran yang lebih kongkrit. Misalnya: “Ia bersama dengan Allah walaupun ia adalah ciptaan yang diciptakan Allah sebelum segala sesuatu ada. Hal serupa juga terdapat dalam Amsal 8:1-21 dan ayat 32-36; dan Amsal 1:1-20; Amsal 3:13-20. Terkadang hikmat juga dipersonifikasikan sebagai seorang yang berseru-seru dan memperdengarkan suaranya di tempat-tempat yang tinggi, di tepi jalan, dipersimpangan jalan-jalan, di sanalah ia berdiri” (Amsal 8:1, 2).
e. Tradisi Hikmat Israel: Refleksi Yang Melekat Pada Iman Kepada YHWH.
Pada satu pihak, tradisi-tradisi hikmat Israel merupakan refleksi terhadap pengalaman hidup manusia dan di pihak lain merupakan pernyataan illahi yang menuntunnya kepada kebenaran-Nya. Disebut sebagai penyataan illahi karena Israel mendasarkan tradisi hikmatnya pada karya penyelamatan Allah. Oleh sebab itu, dikatakan “permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan dan mengenal yang Mahakudus adalah pengertian” (Amsal 9:10). Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa “Takut Akan Tuhan” adalah menjadi salah satu ciri umum dari pengajaran hikmat di Israel. Kalimat “takut akan Tuhan” itu sendiri menempati posisi yang sangat pentig bagi Israel dan dalam kitab Amsal ada 15 kali kata “takut akan Tuhan” disebutkan (1:7, 29; 2:5; 8:13; 9:10; 10:27; 14:2, 26, 27; 15:16, 33; 16:6; 22:4; 28:14; 31:30). Selanjutnya takut akan Allah hanya satu kali (19:23). Semua itu memperlihatkan, bahwa hikmat yang dipahami umat Israel berbeda dengan hikmat yang dipahami oleh bangsa-bangsa non-Israel. Artinya yang lebih penting adalah tradisi-tradisi itu dikaitkan dengan iman kepada YHWH, sehingga pengkaitan inilah yang menyebabkan tradisi-tradisi hikmat itu mengalami pengaruh dan penekanan yang jauh lebih mendalam. Pemahaman seperti ini ditegaskan Robinson: “karena tradisi hikmat Israel mempunyai arti dan makna yang berbeda dengan tradisi-tradisi hikmat non-Israel. Maka tradisi hikmat tidak lagi dilihat hanya sebagai refleksi atas pengalaman manusiawi belaka, melainkan lebih jauh dari itu, yaitu sebagai penyataan Allah. Di sinilah letak teologis dari hikmat yang dipahami umat Israel. Setiap saat tradisi hikmat itu mengalami perubahan. Perubahan di sini dalam arti kontekstualisasi. Mengapa demikian? Karena pandangan tradisi hikmat sebelum pembuangan berbeda dengan pandangan tradisi hikmat sesudah pembuangan. Perubahan itu tentu terletak pada persoalan tentang arti hidup yang digumuli dalam periode-periode tertantu. Namun semuanya itu tidak pernah terlepas dari penyataan karya penyelamatan yang dilakukan Allah dalam periode-periode tertentu.
Dari apa yang telah dipaparkan secara panjang lebar di atas memperlihatkan beberapa hal yang harus digaris bawahi, yaitu pertama-tama, hikmat di Israel berakar pada takut akan Tuhan. Selanjutnya hikmat yang benar adalah mengakui dan mengenal YHWH Yang Maha Kudus (Amsal 9:10). G. Von Rad bertolak dari Amsal 2:5-8, ia mengatakan bahwa takut akan Allah dan pengenalan akan Allah, merupakan karunia Allah yang mula-mula. Karunia itu berada di luar dunia dan kehidupan manusia. Oleh sebab itu setiap orang yang mendengar berita ini sekaligus juga merupakan penawaran keselamatan yang bersifat pribadi. Maka penawaran itu merupakan saat yang paling berharga dan bahkan menuntut seseorang untuk tidak melewatkannya. Dengan demikian seseorang dituntut harus segera mengambil sebuah keputusan atas tawaran yang berharga itu.
f. Analisis Teks dan Terjemahan Amsal 8:10-11
WTT : Amsal 8:10 “ qehû|-mûsärî we´al-käºsep wedaº`at mëhärûs nibhär ”
• LAI : “Terimalah didikanku, lebih dari pada perak, dan pengetahuan lebih dari pada emas pilihan”.
• Terj. Usulan : Terimalah disiplinku dan bukan perak, dan pengetahuan lebih dari pada emas pilihan.
Kata we´al-käºsep > : “dan bukan perak”, LAI : “lebih dari pada perak”, karena itu menurut saya terjemahan LAI kurang tepat serta melewatkan kata penghubung “we” yang artinya “dan”, yang fungsinya sebagai penghubung antara kata “pengajaran” dan “perak”. RSV dan NIV menterjemahkan we´al-käºsep: “instead of silver”, KJV: “and not silver”. Selanjutnya adalah kata “musari” : “disiplinku, LAI : didikanku”, menurut saya ini juga kurang begitu tepat karena dalam bentuk aslinya ada akhiran ganti. Sedangkan terjemahan LAI akhiran gantinya dihilangkan, sehingga yang diterjemahkan dari kata dasarnya, yaitu “musar” yang tanpa akhiran ganti. Namun meskipun demikian terjemahan itu tetap dipertahankan karena “didikan” itu adalah disiplin khusus, yaitu arti lain dari “musar” ialah “disiplin” si pengajar, sedangkan “pengetahuan” yang ada pada si pengajar bukan miliknya sendiri secara khusus. Artinya “pengetahuan” yang dimiliki itu pun seperti pemberian.
WTT : Amsal 8:11 “ kî-tôbâh hokmâh mippenînîm wekol-hápäsîm lö´ yišwû-bäh “
• LAI : “Karena hikmat lebih berharga dari pada permata, apa pun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya.”
• Terj. Usulan : Karena hikmat lebih baik (lebih berharga) dari permata, dan segala kesenangan yang diinginkan orang tidak dapat menyamainya.
Terjemahan LAI tetap mengabaian preposisi “we”: “dan”. Padahal jika penghubung itu dihilangkan maka kalimat itu putus secara mendadak. Meskipun tidak terlalu berpengaruh pada terjemahan itu sendiri. Sedangkan selebihnya tetap dipertahankan.
g. Tafsiran Amsal 8:10-11
Ayat 10.
Perikop ini dimulai dengan kata “terimalah”, yang merupakan sebuah perintah dari guru hikmat yang mendorong para murid untuk menerima disiplinnya. Kemudian perintah itu lebih dipertajam lagi dengan kata “dan bukan”. Tujuannya: untuk memperlihatkan betapa tingginya nilai hikmat yang diajarkannya, yaitu lebih tinggi dari nilai “perak” (ay.10a). Kemudian tawaran itu semakin meningkat yang nilainya lebih tinggi dari “perak”, yaitu “emas pilihan” (emas murni) (ay.10b). Namun ternyata baik “perak” maupun “emas pilihan” tidak bisa mengatasi nilai hikmat yang ditawarkan. Pertanyaannya adalah kenapa demikian? Karena dasar dari pengajaran hikmatnya adalah “Takut Akan Tuhan”. Baik perak maupun emas merupakan logam mulia yang paling tinggi nilainya. Emas sangat digemari, pada masa Salomo membangun Bait Allah, emas dipakai pada alat-alat yang paling utama di kemah Suci (Kel. 25). Namun sayang semua itu tidak ada nilainya bila dibandingkan dengan hikmat yang Allah berikan. Yeremia 6:29-30 menggambarkan Israel sebagai perak yang ditolak karena tidak setia dan taat kepada Allah. Perintah itu merupakan suatu larangan supaya si murid tidak salah pilih, tetapi benar-benar melihat bahwa tawaran itu sebagai anugerah Allah yang mulia, yang nilainya lebih tinggi dari perak dan emas pilihan. Itu adalah sebuah kesempatan, jika diabaikan maka anugerah yang berharga itu akan lewat dan tidak akan pernah kembali lagi.
Ayat 11.
Pada ayat 10 kita telah melihat bahwa bentuk “perintah” yang diiringi dengan bentuk “larangan”, yang merupakan kalimat motif untuk menjelaskan alasan bagi dorongan yang diberikan kepada si murid. Artinya ayat 11 ini merupakan alasan untuk memberi jawab atas apa yang dituliskan penulis kitab Amsal pada ayat 10. Namun sangat penting untuk digaris bawahi, yaitu guru hikmat sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan nilai perak, emas pilihan dan permata, tetapi untuk memperlihatkan bahwa nilai hikmat jauh lebih tinggi nilainya dibandingkan nilai perak, emas pilihan dan permata, walaupun barang-barang itu amat berharga. Karena tingginya nilai hikmat tersebut, maka penulis Amsal mengkongkritkan hikmat yang masih abstrak dengan sebuah kalimat pendek pada ayat 11b, yaitu “dan segala kesenangan yang diinginkan orang tidak dapat menyamainya”. Karena dasar hikmat yang sejati adalah “Takut Akan Tuhan”, maka tidak ada kesenangan dan kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan orang yang hidup dengan “Takut Akan Tuhan”, sebab segala sesuatu bersumber pada-Nya.
Kesimpulan
Hikmat adalah suatu kualitas kecerdasan intelektual yang diberikan Allah kepada manusia sebagai petunjuk praktis untuk menjalani hidup sehari-hari, serta membawa manusia kepada keberhasilan hidup atau sebagai kunci keberhasilan yang sesuai dengan kehendak Allah. Oleh sebab itu, kata “Takut Akan Tuhan” menempati posisi yang sangat sentral (utama). Takut akan Tuhan dan pengenalan akan Allah, merupakan penyataan illahi dan karunia Allah yang mula-mula, yang berada di luar dunia dan kehidupan manusia. Setiap orang yang mendengar berita ini yang sekaligus merupakan penawaran keselamatan yang paling berharga dan bersifat pribadi, dan bahkan menuntut seseorang untuk tidak melewatkannya. Tetapi menuntut seseorang untuk segera mengambil sebuah keputusan atas tawaran yang berharga itu, untuk menuntun manusia kepada kebenaran-Nya. Hikmat selalu bersahabat dengan kebenaran, berpihak kepada realitas dan mendatangkan benih-benih kehidupan dan bukan kematian. Dengan demikian hikmat-Nya merupakan sumber kehidupan yang menuntun orang untuk hidup saleh menurut kehendak Allah.
KEPUSTAKAAN
Barth Christoph, Theologia Perjanjian Lama-Vol. 3 (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 1988.
Blommendaal J., Pengantar Kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 1996.
Browning W.R.F, Kamus Alkitab - A Dictionary Of The Bible. Trje. Lim Khiem Yang (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 2007.
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid-II, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/ OMF 2004
Keil C. F. dan Franz. Delitzsch, Biblical Commentary On The Proverbs Of Salomon Vol. 1, (USA: Wm. B. Eedmans Publishing Company Grand Rapids), 1872.
Farmer Kathleen A., International Theological Commentary-Proverbs & Ecclestes-Who Knows What is Good?, (USA: Wm. B. Eermans Publishing Company, Grang Rapids, Michigan, 1991.
Fox Michael V., The Anchor Bible Proverbs 1-9 – A New Translation With Introducation And Commentary (USA : Doubleday), 2000.
Groenen C., Pengantar Ke Dalam Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius), 2005.
Kindner Derek, Proverbs – An Introducation And Commentary, (General Editor: Prof. D. J. Wiseman), (London: The Tyndale Press) 1964.
Longman Tremper III, Hikmat & Hidup Sukses-Panduan Untuk Memperoleh Manfaat Dari Kitab Amsal (Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab) 2007.
Ludji Barnabas, diktat kuliah HPL 3 (Cipanas), 2008.
Rad G. Von, Old Testament Theology - The Theology Of Israel’s Historical Traditions Vol. 1, (Edinburgh and London: Oliver and Body LTD), 1962.
Robinson H. Wheeler, Inspiration and Revelation In The Old Testament, (Oxford at The Clarendon), 1960.
Roedi Isak, Diktat Kuliah Studi Amsal (Cipanas), 2009.
Scott R.B.Y., The Anchor Bible Proverbs-Ecclesiastes- A New Translation With Introduction And Commentary (USA: Doubleday & Company, Inc.), 1973.
Sinulingga Risnawaty, Tafsiran Alkitab – Kitab Amsal 1-9 (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 2007.
Suharyo I., Mengenal Alam Hidup Perjanjian Lama, (Yogyakarta: Kanisius-LBI), 2003.
Wahono S. Wismoady, Di Sini Kutemukan (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 2004.
Weiden Wim van der, Seni Hidup-Sastera Kebijaksanaan Perjanjian Lama (Yogyakarta: LBI-Kanisius), 1995.
Weiden Wim van der, Kebijaksanaan Salomo (Yogyakarta: Kanisius-LBI), 1990.
Wuysang Hans, Diktat Kuliah HPL 1, (Cipanas), 2007.
DARI EMAS DAN PERAK
(Amsal 8:10-11)
Oleh: Sugiman
Pendahuluan
Pada zaman Perjanjian Lama emas pilihan dan perak sudah dikenal sebagai suatu benda yang bernilai tinggi atau mahal nilainya dan bahkan hingga saat ini. Pada masa raja Salomo dan sesudahnya, terutama pada masa pembuangan di Babilonia emas pilihan yang terbaik dan mahal harganya berasal dari Ofir yang terkenal sebagai tempat penghasil emas murni, permata dan perak yang mahal harganya. Ofir terletak di barat daya Arabia di pantai Afrika Timur laut. Emas Ofir juga sering disebut dalam kitab ( 2 Taw. 8:18; Ayub 22:24; 28:16; Maz. 45:9 dan Yes.13:12; 1 Raj. 9:28Maz. 45:10, Ay.28:16. Emas itu diimpor ke Yehuda pada masa Salomo. Ketika Yehuda terjepit saat Asyur berkuasa pada masa pemerintahan Uzia hingga pada masa raja Hizkia maupun sesudahnya, emas juga menempati posisi yang sangat penting. Banyak raja Yehuda yang membayar upeti kepada Asyur dengan emas yang ada di Bait Suci di Yerusalem. Namun penulis Amsal menyajikan atau memperlihatkan suatu pernyataan yang sangat kontras atau berbeda seperti yang dipahami oleh umat Israel. Ternyata ada yang lebih mahal nilainya emas-emas pilihan atau emas murni dan perak, yaitu hikmat. Oleh sebab itu dalam paper ini akan melihat dan menganalisis mengapa penulis Amsal mengatakan bahwa hikmat lebih mahal nilainya dibandingkan dengan emas dan perak.
Pembahasan
a. Latar Belakang Kitab Amsal
Kitab Amsal adalah suatu kitab yang termasuk dalam kumpulan “sastera hokmah” (hikmat) dalam Perjanjian Lama. Kitab ini berasal dari penulis tertantu di samping kitab hikmat yang lainnya (Ayub dan Pengkhotbah). Sangat penting untuk diketahui bahwa Amsal adalah kumpulan sastera yang mewakili hikmat tradisional. Jika kita mengatakan kitab ini mewakili hikmat tradisional, maka hikmat itu sendiri sudah dikenal secara meluas di dunia Timur Tengah Kuno. Artinya tidak hanya di Israel sastra hikmat ini dikenal tetapi juga di luar Israel, seperto di Babel, Asyur dan bahkan di dunia Mesir kuno, seperti “pengajaran-pengajaran Ani” dan “disiplin Amenemope” (ANET 421-424) yang ditulis sekitar tahun 800 sM. Sastera hikmat (kebijaksanaan) juga merupakan bahagian dari kehidupan rohani dan kebudayaan yang sangat dihargai dan tidak terpisahkan. Oleh sebab itu tidak heran jika kadang-kadang Amsal ini bercorak keduniawian dan kadang-kadang kerohanian. Bangsa-bangsa non-Israel menganggap bahwa hikmat berasal dari para dewanya masing-masing, yang berisikan kesenian, teknik dan ilmu teoritis serta etika. Konsep pemahaman hikmat di Israel dengan bangsa non-Israel jelas memiliki perbedaan yang tajam. Bagi bangsa bangsa non-Israel hikmat adalah berasal dari para dewa, tetapi bagi bangsa Israel hikmat berasal dari YHWH dan Dialah dasar hikmat yang sesungguhnya, maka kata “Takut Akan Tuhan” menjadi sangat penting bagi orang bijaksana di Israel.
b. Siapa Penulisnya dan kapan?
Mengenai siapa penulis kitab Amsal ternyata menjadi perdebatan yang tidak terpecahkan di kalangan para ahli. Hingga saat ini pendapat itu masih bercabang dua. Yang lain mengatakan bahwa penulis kitab ini adalah raja Salomo karena namanya disebutkan sebanyak tiga kali: (1:1, 10:1 dan 25:1). Yang lain lagi mengatakan bukan Salomo penulisnya, karena pengarang kitab ini menggunakan terjemahan Yunani Septuaginta dari kitab-kitab Perjanjian Lama . Artinya pemakaian nama Salomo di atas tidak berarti dia yang menulisnya, tetapi bisa jadi ditulis oleh orang lain pada masa yang lebih kemudian dengan menggunakan nama raja Salomo. Karena cara-cara seperti itu sudah lazim dan biasa diterapkan saat itu. Namun demikianpun tidak berarti kita menyangkal Salomo sebagi penulis sebagian dari kitab ini. Tapi itu pun tidak bisa dipastikan, sebab apakah itu memang berasal dari Salomo atau berasal dari masa Salomo (Blommendaal, 1996 : 154). Sedangkan pasal 1-9 adalah berasal dari masa yang lebih muda atau sesudah pembuangan di Babilonia. Karena pengaruh nabi-nabi besar sangat terasa, seperti Yeremia, Deutero-Yesaya dan lebih khusus lagi Deuteronomium. Karena pasal 1-9 ditambahkan kemudian oleh seseorang yang tidak dikenal, maka nama Salomo yang digunakan hanyalah sebagai samaran supaya pemikirannya yang dituangkan dalam bentuk tulisan dapat diterima oleh pembacanya saat itu. Kemungkinan pengarang kitab Amsal sendiri ditolak dalam komunitasnya dan tidak dipercayaai lagi karena perkataan dan kesaksian hidupnya, yaitu melalui perkataan dan perbuatannya. Oleh sebab itu ia menggunakan nama raja Salomo yang sudah dikenal luas sebagai seorang berhikmat saat, sehingga tanpa ada bantahan dari pembacanya. Ketika orang mendengar nama Salomo, maka siapa yang bisa membantah perkataannya.
Mungkin yang lebih cocok diarahkan kepada Salomo sebagai pengarangnya adalah pasal 10-29 yang berasal dari masa raja-raja, karena memuat tentang penghormatan dan pujian kepada raja-raja (16:10, 12 dst.; 20:8, 26, 28; 21:1; 22:11; 25:2 dst). Lebih jauh lagi bahwa pasal 25 ini dilatarbelakangi kehidupan pertanian (25:13 dst, 23; 27:23dst, 28:3). Weiden mengatakan bahwa kitab Amsal ini terdiri (9) koleksi. Artinya jelas bahwa kitab Amsal tidak disusun sekaligus oleh seseorang atau sekelompok orang, melainkan sedikit demi sedikit dikumpulkan hingga menjadi satu kitab seperti yang kita kenal saat ini. Yang menjadi masalah dalam perdebatan para ahli adalah berkisar “kapan kitab ini ditulis”. Blommendaal (1996:154) mengatakan memang pada umumnya para ahli mengatakan kitb ini berasal dari masa pembuangan di Babilonia. Namun hal ini tidak dapat dibuktikan karena tidak ada bukti-bukti atau petunjuk yang jelas kapan masa penulisannya. Weiden, (1990 :15-17) mengandaikan, kemungkinan penulisnya adalah seorang Yahudi helenis, yang saleh dan setia pada Taurat Yahudi yang hidup di Mesir khususnya di kota Alxanderia. Maka penyusunan kitab ini diperkirakan sesudah diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, yaitu sesudah tahun 200 sM. Karena pengarang sendiri menggunakan terjemahan Yunani Septuaginta, sehingga isi kitab ini sangat kuat dipengaruhi bahasa Yunani. Inilah yang menjadi alasan bahwa Salomo bukanlah penulisnya, tetapi pemakaian nama Salomo hanyalah sebagai samaran supaya pengajarannya dapat diterima oleh pembacanya saat itu. Selain itu juga ditemukan nama Agur (30:1) dan Lemuel (31: 1, 4), yang kemungkinan bukan dari orang Israel, tetapi dari bangsa sekitar Israel (bnd. Isak Roedi, Catatan kuliah, Cipanas, 2009). Karena pada umumnya sastera hikmat itu sendiri tidak mempunyai hubungan dengan sejarah Israel. Sehingga wajar jika perbuatan-perbuatan besar Allah dalam sejarah Israel tidak dibicarakan dalam kitab ini. Namun ada satu pernyataan bijak yang diungkapkan oleh Blommendaal (1996: 153), yaitu meskipun perbuatan-perbuatan Allah tidak dibicarakan di sini, tetapi yang lebih penting dalam kitab ini adalah bagaimana orang bisa hidup sebagai orang yang baik dan saleh menurut kehendak Allah.
c. Apa itu hikmat?
Menurut Isak Roedi, hikmat adalah keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup atau petunjuk praktis untuk hidup sehari-hari. Barnabas Ludji mengatakan “hikmat adalah suatu kualitas intelektual atau pemikiran manusia yang mampu membedakan hikmat manusia dengan segala kebijakannya serta membawa manusia kepada keberhasilan hidup”. Browning mengatakan yang hikmat adalah petunjuk hidup praktis yang menuntun seseorang bisa mengatur hidupnya dengan baik sehingga hidupnya memiliki tujuan yang jelas. Jika kita melihat pengertian dari “hokma” adalah “kemampuan intelektual”. Namun Hikmat tidak identik dengan pengetahuan-intelektual, tetapi mempunyai kaitan dengan kecerdasan intelektual (Ams. 1:4). Karena fokus hikmat tidak terletak di sana (lht. Catatan kuliah studi Amsal, 2009). Lebih jauh Paulus mengatakan bahwa hikmat adalah kebenaran hidup dan itu bukan sesuatu yang abstrak dan juga bukan hanya sekedar tahu tetapi lebih dari itu, yaitu saat melakukan sesuatu (14:4; 31). Menurut Tremper Longman III ( 2007 : 6-7), hikmat adalah kunci untuk bisa berhasi di dalam hidup. Karena banyak konsep hikmat dalam kitab Amsal mirip kecerdasan emosional yang disebut dengan EQ bukan IQ yang berkonotasi langsung dengan kesuksesan di dalam hidup. Hikmat adalah anugerah Allah yang diberikan-Nya kepada manusia untuk mempu menjalani hidup ini sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya. Jika hikmat di katakan sebagai anugerah Allah yang diberikan kepada manusia, maka tidak ada hikmat yang dihasilkan oleh manusia.
Christoph Barth mengatakan bahwa hikmat erat kaitannya dengan karya penyelamatan yang dilakukan Allah atas umat Israel. Para raja yang diangkat-Nya diberikan hikmat supaya mempu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, dan mendatangkan syalom (damai sejahtera) atas rakyatnya serta seluruh umat Israel yang terpanggil harus hidup dengan hikmat dan kebijaksanaan. Selain itu, Yesaya 33:6 mengatakan bahwa hikmat (hokhmah) dan pengetahuan (da’at) takut akan YHWH, itulah adalah kekayaan yang menyelamatkan, dan itulah kekayaan Sion. bagi mereka supaya mengajarkan untuk memerintah mereka mengajar mampu memerintah dengan hikmat yang telah diterima, untuk membebaskan atau menyelamatkan umat-Nya dari penindasan, ketidakadilan. Allah ingin mereka mendatangkan damai sejahtera bagi umat-Nya. Oleh sebab itu tidak heran, bahwa banyak para raja atau para pemimpin Israel yang dikecam oleh para nabi Tuhan karena tidak mendatangkan damai sejahtera bagi umat-Nya dan itu jelaslah bukanlah hikmat, sebab hikmat dari Allah tidak pernah bekerja sama dengan ketidakadilan, penindasan, pemerasan, kekerasan dan bentuk kejahatan lainnya.
Dari semua penjelasan di atas dapat kita simpulkan, bahwa hikmat adalah suatu kualitas kecerdasan intelektual yang diberikan Allah kepada manusia, yang lebih tinggi nilainya dari kemampuan intelektual itu sendiri, yang mengatur jalan hidup manusia sehari-hari secara praktis dan terampil, serta yang mambawa manusia kepada keberhasilan hidup untuk kemuliaan-Nya. Hikmat selalu bersahabat dengan kebenaran, berpihak kepada realitas dan mendatangkan benih-benih kehidupan bukan kematian.
d. Ciri-ciri Umum dari Hikmat Israel
Sebelum melihat perbedaan yang sangat tajam antara pengajaran hikmat di Israel dengan pengajaran hikmat dari bangsa-bangsa non-Israel. Maka ada baiknya terlebih dahulu kita melihat apa yang menjadi ciri-ciri dari hikmat Israel:
1. Pengajaran hikmat itu sendiri didasarkan pada “takut akan Tuhan”. Ini tidak hanya sekedar ungkapan, tetapi merupakan inspirasi yang berasal dari Allah yang kemudian terungkap melalui kata-kata orang berhikmat yang hidup takut akan Tuhan. Kata-kata yang keluar memberikan kehidupan bukan kematian, selanjutnya pendengarnya merasa disembuhkan dan bukan dilukai.
2. Pengajaran hikmat itu selalu ditujukan kepada personal (perorangan). Sebutan istilah “anakku” dalam kitab Amsal muncul 23 kali, “anakmu” 3 kali dan “anaknya” juga 3 kali. Sapaan ini begitu pribadi dengan maksud memberikan didikan, disiplin, pengajaran dan binaan supaya menjadi seorang yang “bijak” sejati. Menjadi orang bijak sejati, memang bukanlah perkara yang gampang, tetapi itu adalah sebuah proses supaya seseorang bisa bertanggung jawab secara pribadi atas hidupnya dan mampu memilih jalan hidupnya sendiri.
3. Pengajaran hikmat itu mengingatkan orang untuk membedakan antara dua macam sikap dan perilaku orang yang bertentangan: yang baik dan benar, bijaksana di satu pihak, yang buruk dan salah dan bebal di pihak yang lain. Guru hikmat memberikan petunjuk-petunjuk hidup praktis yang saling terpisah satu sama lain (tidak dirangkai dengan urutan atau sistem yang nyata, melainkan mengajak si murid untuk menimbang, kemudian menarik kesimpulan sendiri. Tetapi dalam pengajaran hikmat itu sendiri juga mengandung tujuan yang khusus.
4. Pengajaran hikmat selalu dikemukakan dengan penuh keyakinan dan wibawa. Dalam proses penyampaian guru hikmat tidak menyampaikan pengeharan atas nama dan wewenang sendiri, karena mereka lebih menghormati seorang raja (Ams. 24:21), namun tidak berarti juga ia mengajarkan apa yang diperintahkan raja. Sebab seorang raja juga harus dipimpin oleh hikmat untuk bisa memimpin dengan baik (8:15; 20:28).
5. Pengajaran hikmat dipersonifikasikan. Ini merupakan suatu usaha untuk menjelaskan pemikiran-pemikiran oran Ibrani yang abstrak dengan pemikiran yang lebih kongkrit. Misalnya: “Ia bersama dengan Allah walaupun ia adalah ciptaan yang diciptakan Allah sebelum segala sesuatu ada. Hal serupa juga terdapat dalam Amsal 8:1-21 dan ayat 32-36; dan Amsal 1:1-20; Amsal 3:13-20. Terkadang hikmat juga dipersonifikasikan sebagai seorang yang berseru-seru dan memperdengarkan suaranya di tempat-tempat yang tinggi, di tepi jalan, dipersimpangan jalan-jalan, di sanalah ia berdiri” (Amsal 8:1, 2).
e. Tradisi Hikmat Israel: Refleksi Yang Melekat Pada Iman Kepada YHWH.
Pada satu pihak, tradisi-tradisi hikmat Israel merupakan refleksi terhadap pengalaman hidup manusia dan di pihak lain merupakan pernyataan illahi yang menuntunnya kepada kebenaran-Nya. Disebut sebagai penyataan illahi karena Israel mendasarkan tradisi hikmatnya pada karya penyelamatan Allah. Oleh sebab itu, dikatakan “permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan dan mengenal yang Mahakudus adalah pengertian” (Amsal 9:10). Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa “Takut Akan Tuhan” adalah menjadi salah satu ciri umum dari pengajaran hikmat di Israel. Kalimat “takut akan Tuhan” itu sendiri menempati posisi yang sangat pentig bagi Israel dan dalam kitab Amsal ada 15 kali kata “takut akan Tuhan” disebutkan (1:7, 29; 2:5; 8:13; 9:10; 10:27; 14:2, 26, 27; 15:16, 33; 16:6; 22:4; 28:14; 31:30). Selanjutnya takut akan Allah hanya satu kali (19:23). Semua itu memperlihatkan, bahwa hikmat yang dipahami umat Israel berbeda dengan hikmat yang dipahami oleh bangsa-bangsa non-Israel. Artinya yang lebih penting adalah tradisi-tradisi itu dikaitkan dengan iman kepada YHWH, sehingga pengkaitan inilah yang menyebabkan tradisi-tradisi hikmat itu mengalami pengaruh dan penekanan yang jauh lebih mendalam. Pemahaman seperti ini ditegaskan Robinson: “karena tradisi hikmat Israel mempunyai arti dan makna yang berbeda dengan tradisi-tradisi hikmat non-Israel. Maka tradisi hikmat tidak lagi dilihat hanya sebagai refleksi atas pengalaman manusiawi belaka, melainkan lebih jauh dari itu, yaitu sebagai penyataan Allah. Di sinilah letak teologis dari hikmat yang dipahami umat Israel. Setiap saat tradisi hikmat itu mengalami perubahan. Perubahan di sini dalam arti kontekstualisasi. Mengapa demikian? Karena pandangan tradisi hikmat sebelum pembuangan berbeda dengan pandangan tradisi hikmat sesudah pembuangan. Perubahan itu tentu terletak pada persoalan tentang arti hidup yang digumuli dalam periode-periode tertantu. Namun semuanya itu tidak pernah terlepas dari penyataan karya penyelamatan yang dilakukan Allah dalam periode-periode tertentu.
Dari apa yang telah dipaparkan secara panjang lebar di atas memperlihatkan beberapa hal yang harus digaris bawahi, yaitu pertama-tama, hikmat di Israel berakar pada takut akan Tuhan. Selanjutnya hikmat yang benar adalah mengakui dan mengenal YHWH Yang Maha Kudus (Amsal 9:10). G. Von Rad bertolak dari Amsal 2:5-8, ia mengatakan bahwa takut akan Allah dan pengenalan akan Allah, merupakan karunia Allah yang mula-mula. Karunia itu berada di luar dunia dan kehidupan manusia. Oleh sebab itu setiap orang yang mendengar berita ini sekaligus juga merupakan penawaran keselamatan yang bersifat pribadi. Maka penawaran itu merupakan saat yang paling berharga dan bahkan menuntut seseorang untuk tidak melewatkannya. Dengan demikian seseorang dituntut harus segera mengambil sebuah keputusan atas tawaran yang berharga itu.
f. Analisis Teks dan Terjemahan Amsal 8:10-11
WTT : Amsal 8:10 “ qehû|-mûsärî we´al-käºsep wedaº`at mëhärûs nibhär ”
• LAI : “Terimalah didikanku, lebih dari pada perak, dan pengetahuan lebih dari pada emas pilihan”.
• Terj. Usulan : Terimalah disiplinku dan bukan perak, dan pengetahuan lebih dari pada emas pilihan.
Kata we´al-käºsep > : “dan bukan perak”, LAI : “lebih dari pada perak”, karena itu menurut saya terjemahan LAI kurang tepat serta melewatkan kata penghubung “we” yang artinya “dan”, yang fungsinya sebagai penghubung antara kata “pengajaran” dan “perak”. RSV dan NIV menterjemahkan we´al-käºsep: “instead of silver”, KJV: “and not silver”. Selanjutnya adalah kata “musari” : “disiplinku, LAI : didikanku”, menurut saya ini juga kurang begitu tepat karena dalam bentuk aslinya ada akhiran ganti. Sedangkan terjemahan LAI akhiran gantinya dihilangkan, sehingga yang diterjemahkan dari kata dasarnya, yaitu “musar” yang tanpa akhiran ganti. Namun meskipun demikian terjemahan itu tetap dipertahankan karena “didikan” itu adalah disiplin khusus, yaitu arti lain dari “musar” ialah “disiplin” si pengajar, sedangkan “pengetahuan” yang ada pada si pengajar bukan miliknya sendiri secara khusus. Artinya “pengetahuan” yang dimiliki itu pun seperti pemberian.
WTT : Amsal 8:11 “ kî-tôbâh hokmâh mippenînîm wekol-hápäsîm lö´ yišwû-bäh “
• LAI : “Karena hikmat lebih berharga dari pada permata, apa pun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya.”
• Terj. Usulan : Karena hikmat lebih baik (lebih berharga) dari permata, dan segala kesenangan yang diinginkan orang tidak dapat menyamainya.
Terjemahan LAI tetap mengabaian preposisi “we”: “dan”. Padahal jika penghubung itu dihilangkan maka kalimat itu putus secara mendadak. Meskipun tidak terlalu berpengaruh pada terjemahan itu sendiri. Sedangkan selebihnya tetap dipertahankan.
g. Tafsiran Amsal 8:10-11
Ayat 10.
Perikop ini dimulai dengan kata “terimalah”, yang merupakan sebuah perintah dari guru hikmat yang mendorong para murid untuk menerima disiplinnya. Kemudian perintah itu lebih dipertajam lagi dengan kata “dan bukan”. Tujuannya: untuk memperlihatkan betapa tingginya nilai hikmat yang diajarkannya, yaitu lebih tinggi dari nilai “perak” (ay.10a). Kemudian tawaran itu semakin meningkat yang nilainya lebih tinggi dari “perak”, yaitu “emas pilihan” (emas murni) (ay.10b). Namun ternyata baik “perak” maupun “emas pilihan” tidak bisa mengatasi nilai hikmat yang ditawarkan. Pertanyaannya adalah kenapa demikian? Karena dasar dari pengajaran hikmatnya adalah “Takut Akan Tuhan”. Baik perak maupun emas merupakan logam mulia yang paling tinggi nilainya. Emas sangat digemari, pada masa Salomo membangun Bait Allah, emas dipakai pada alat-alat yang paling utama di kemah Suci (Kel. 25). Namun sayang semua itu tidak ada nilainya bila dibandingkan dengan hikmat yang Allah berikan. Yeremia 6:29-30 menggambarkan Israel sebagai perak yang ditolak karena tidak setia dan taat kepada Allah. Perintah itu merupakan suatu larangan supaya si murid tidak salah pilih, tetapi benar-benar melihat bahwa tawaran itu sebagai anugerah Allah yang mulia, yang nilainya lebih tinggi dari perak dan emas pilihan. Itu adalah sebuah kesempatan, jika diabaikan maka anugerah yang berharga itu akan lewat dan tidak akan pernah kembali lagi.
Ayat 11.
Pada ayat 10 kita telah melihat bahwa bentuk “perintah” yang diiringi dengan bentuk “larangan”, yang merupakan kalimat motif untuk menjelaskan alasan bagi dorongan yang diberikan kepada si murid. Artinya ayat 11 ini merupakan alasan untuk memberi jawab atas apa yang dituliskan penulis kitab Amsal pada ayat 10. Namun sangat penting untuk digaris bawahi, yaitu guru hikmat sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan nilai perak, emas pilihan dan permata, tetapi untuk memperlihatkan bahwa nilai hikmat jauh lebih tinggi nilainya dibandingkan nilai perak, emas pilihan dan permata, walaupun barang-barang itu amat berharga. Karena tingginya nilai hikmat tersebut, maka penulis Amsal mengkongkritkan hikmat yang masih abstrak dengan sebuah kalimat pendek pada ayat 11b, yaitu “dan segala kesenangan yang diinginkan orang tidak dapat menyamainya”. Karena dasar hikmat yang sejati adalah “Takut Akan Tuhan”, maka tidak ada kesenangan dan kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan orang yang hidup dengan “Takut Akan Tuhan”, sebab segala sesuatu bersumber pada-Nya.
Kesimpulan
Hikmat adalah suatu kualitas kecerdasan intelektual yang diberikan Allah kepada manusia sebagai petunjuk praktis untuk menjalani hidup sehari-hari, serta membawa manusia kepada keberhasilan hidup atau sebagai kunci keberhasilan yang sesuai dengan kehendak Allah. Oleh sebab itu, kata “Takut Akan Tuhan” menempati posisi yang sangat sentral (utama). Takut akan Tuhan dan pengenalan akan Allah, merupakan penyataan illahi dan karunia Allah yang mula-mula, yang berada di luar dunia dan kehidupan manusia. Setiap orang yang mendengar berita ini yang sekaligus merupakan penawaran keselamatan yang paling berharga dan bersifat pribadi, dan bahkan menuntut seseorang untuk tidak melewatkannya. Tetapi menuntut seseorang untuk segera mengambil sebuah keputusan atas tawaran yang berharga itu, untuk menuntun manusia kepada kebenaran-Nya. Hikmat selalu bersahabat dengan kebenaran, berpihak kepada realitas dan mendatangkan benih-benih kehidupan dan bukan kematian. Dengan demikian hikmat-Nya merupakan sumber kehidupan yang menuntun orang untuk hidup saleh menurut kehendak Allah.
KEPUSTAKAAN
Barth Christoph, Theologia Perjanjian Lama-Vol. 3 (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 1988.
Blommendaal J., Pengantar Kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 1996.
Browning W.R.F, Kamus Alkitab - A Dictionary Of The Bible. Trje. Lim Khiem Yang (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 2007.
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid-II, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/ OMF 2004
Keil C. F. dan Franz. Delitzsch, Biblical Commentary On The Proverbs Of Salomon Vol. 1, (USA: Wm. B. Eedmans Publishing Company Grand Rapids), 1872.
Farmer Kathleen A., International Theological Commentary-Proverbs & Ecclestes-Who Knows What is Good?, (USA: Wm. B. Eermans Publishing Company, Grang Rapids, Michigan, 1991.
Fox Michael V., The Anchor Bible Proverbs 1-9 – A New Translation With Introducation And Commentary (USA : Doubleday), 2000.
Groenen C., Pengantar Ke Dalam Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius), 2005.
Kindner Derek, Proverbs – An Introducation And Commentary, (General Editor: Prof. D. J. Wiseman), (London: The Tyndale Press) 1964.
Longman Tremper III, Hikmat & Hidup Sukses-Panduan Untuk Memperoleh Manfaat Dari Kitab Amsal (Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab) 2007.
Ludji Barnabas, diktat kuliah HPL 3 (Cipanas), 2008.
Rad G. Von, Old Testament Theology - The Theology Of Israel’s Historical Traditions Vol. 1, (Edinburgh and London: Oliver and Body LTD), 1962.
Robinson H. Wheeler, Inspiration and Revelation In The Old Testament, (Oxford at The Clarendon), 1960.
Roedi Isak, Diktat Kuliah Studi Amsal (Cipanas), 2009.
Scott R.B.Y., The Anchor Bible Proverbs-Ecclesiastes- A New Translation With Introduction And Commentary (USA: Doubleday & Company, Inc.), 1973.
Sinulingga Risnawaty, Tafsiran Alkitab – Kitab Amsal 1-9 (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 2007.
Suharyo I., Mengenal Alam Hidup Perjanjian Lama, (Yogyakarta: Kanisius-LBI), 2003.
Wahono S. Wismoady, Di Sini Kutemukan (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 2004.
Weiden Wim van der, Seni Hidup-Sastera Kebijaksanaan Perjanjian Lama (Yogyakarta: LBI-Kanisius), 1995.
Weiden Wim van der, Kebijaksanaan Salomo (Yogyakarta: Kanisius-LBI), 1990.
Wuysang Hans, Diktat Kuliah HPL 1, (Cipanas), 2007.
Injil Lukas dan Kisah Para Rasul: Kemuridan
Oleh: Sugiman
Karya Allah dalam diri Kristus menuntut suatu tanggapan, dan sama gamblangnya dengan para penulis Injil lainnya Lukas menyatakan bahwa orang harus memberikan tanggapan. Lukas menjelaskan cara yang di mulai dengan pertobatan dan ini harus dilakukan dengan sepenuh hati. Agama Kristen sebagai “jalan Allah” , Lukas memandang kekristenan sebagai suatu cara hidup yang menyeluruh, bukan sekedar sebagai sarana pemuasan dorongan-dorongan religius belaka. Mengikut Yesus memerlukan kebulatan hati, Lukas menyatakan dengan tegas tanggapan ini dibandingkan Injil-injil lain. Sebab para calon murid harus menyangkal diri dan memikul salib yang dilakukan setiap hari.
Beberapa ajaran Yesus tentang kemuridan dalam Injil Lukas adalah:
menjadi murid Yesus berarti mengasihi-Nya sedemikian rupa, sehingga kasih duniawi yang terbesar sekali pun tampak bagaikan kebencian, bila dibandingkan dengan kasih untuk-Nya itu.
menentukan para calon murid dengan mengajukan pertanyaan: (1) “Dapatkah engkau memenuhi tuntutan menjadi seorang murid?”. (2) “Dapatkah kamu menolak menjadi murid?”
kegiatan yang harus dijalani, adalah (1) segala sesuatu dilakukan dihadapan hadirat Allah sebagai bentuk pertanggungjawaban. (2) menyadari bahwa kemuridan itu menyangkut seluruh kehidupannya dan bukan hanya beberapa aspeknya.
Pola Kehidupan
Paulus menjadi contoh pola hidup orang Kristen, karena Paulus taat (Kis 26:19) kepada Kristus dengan giat bekerja untuk Allah. Tanggapan yang diharapkan Lukas dari semua orang yang mau menyatakan diri sebagai pengikut Kristus adalah berbalik kepada Tuhan (Kis 3:19) dengan menjadi “hamba” Allah, mencari Dia (Kis17:27), dan takut akan Dia (Kis 10:2) serta memuji dan memuliakan Allah (Kis 12:23).
Paulus percaya kepada Allah (Kis 27:25), iman sangat penting bagi Lukas. Iman sering dihubungkan dengan penyembuhan. Injil Lukas sering menyatakan “Imanmu telah menyelamatkan engkau” (7:50) dan iman “dalam nama Yesus” (Kis 3:16).
Universalisme
Lukas menyatakan bahwa keselamatan dalam Kristus itu terbuka bagi semua orang dari segala ras, dan kota Yerusalem sebagai klimaks dari karya keselamatan Allah. Ia menekankan peranan Yerusalem dan juga segala sesuatu yang bersifat Yahudi sebagai dasar agama Kristen.
Semua bangsa termasuk dalam lingkup keselamatan, yaitu seluruh dunia orang-orang dari Timur dan Barat, dari Utara dan Selatan.
Kepada orang-orang yang tersisih dan orang-orang yang belum percaya, seperti orang-orang Samaria.
Perhatian Lukas kepada universalisme Injil tidaklah terbatas pada lingkup nasional dan geografis saja tetapi orang dari segala bangsa masuk ke dalam lingkup aktivitas Kristus yang menyelamatkan itu dan juga penting bahwa Injil disampaikan kepada kelompok orang yang dalam hal tertentu dirampas hak-haknya.
Kaum Wanita
Kaum wanita dianggap lebih rendah daripada kaum pria. Dalam kebudayaan Yahudipun terjadi hal demikian. Kedudukan wanita dianggap lebih renah. Wanita wajib setia kepada suaminya, tetapi dia tidak dapat menuntut hal yang sama kepada suaminya. Menurut Jews Encyclopedia, wanita Yahudi tidak dapat menjadi saksi di pengadilan, mereka dianggap sama dengan orang-orang rendah dan mereka tidak ikut dalam kelompok yang menumpangkan-tangan ke atas binatang yang akan dikurbankan. Para rabi tidak menerima wanita sebagai murid. Mereka menganggap sebagai perbuatan dosa ketika mereka mengajar seorang perempuan. Dalam dunia Yunani dan Romawi, sebelum wanita itu menikah, maka ia akan tetap berada di bawah perwalian ayahnya ataupun sanak saudaranya yang laki-laki. Seorang wanita yang sudah akan tunduk di bawah kekuasaan suaminya. Kalau ia tidak dapat memuaskan suaminya, maka ia dapat dikembalikan ke keluarganya atau ke suami lainnya. Di Roma, kedudukan wanita lebih baik walaupun kedudukannya masih tetap lebih rendah daripada pria.
Sikap kristiani lebih terbuka terhadap kaum perempuan. Ini terlihat ketika Yesus mengajar para wanita. Misalnya Maria dan Marta. Sekelompok wanita juga mengiringi perjalanan-perjalanan Yesus. Di sini kita dapat melihat bahwa pandangan Yesus berbeda dengan pandangan orang-orang lain.
Injil Lukas dibuka dengan kisah masa kanak-kanak Yohanes pembabtis dan Yesus. Sudah tentu Injil ini memberi banyak perhatian terhadap para wanita. Misalnya saja: Elisabeth dan Maria, Hana dan janda Nain dengan anak tunggalnya yang dibangkitkan. Lukas juga mengisahkan tengtang wanita bungkuk yang tidak dapat menegakkan tubuhnya, namun pada suatu kali ketika hari Sabat, ia mendapat berkat. Kisah wanita yang bungkuk ini hanya terdapat dalam Injil Lukas. Mungkin hanya Lukas juga yang mengisahkan seorang wanita yang menangis di kaki Yesus ketika Yesus sedang makan di rumah orang Farisi. Lukas dan Markus juga mengisahkan tentang persembahan janda miskin. Ini dapat kita pandang sebagai perhatian Lukas kepada kaum wanita (Luk.21:1-4). Lukas juga menyebutkan beberapa wanita yang bukan Kristen seperti Kandake ratu Etiopia, Drusila isteri wali negeri Feliks. Melalui injil Lukas kita ditolong untuk meelihat perubahan-perubahan luar biasa pada status wanita yang diadakan oleh agama Kristen. Tidak ada penulis PB lain yang lebih jelas menerangkan status kau wanita. Kita juga dapat melihat ketika para rasul melarikan diri ketika yesus ditangkap, tetapi beberapa wanita hadir ketika Yesus disalibkan. Di dalam Alkitab, wanita memiliki peranan penting. Begitu juga dalam jemaat mula-mula, ketika Pentakosta. Disebutkan tidak hanya laki-laki yang percaya, tetapi juga perempuan.
Anak-anak
Bagi dunia kuno dan para guru besar khususnya tidak menganggap anak-anak itu berarti. Tetapi Yesus memberikan perhatian yang luar biasa terhadap anak-anak. Hal ini dicatat oleh Lukas, Matius dan Markus. Ia mengisahkan dibangkitkannya anak perempuan Yairus dari antara orang mati (8:41-56). Lukas juga menceritakan tentang seorang yang anaknya sering mendapat serangan penyakit (9:38-43). Rincian yang sama juga terdapat dalam cerita dibangkitkannya janda Nain (7:12).lukas juga mengisahkan tentang anak yang diambil oleh Yesus untuk mencari seorang anak. Lukas menyelipkan satu ayat tentang anak-anak. Ketika dia mengisahkkan episode tentang seorang yang temannya datang tengah malam untuk meminjam roti. Orang itu enggan meminjamkan dan mengajukan keberatan-keberatan;pintu sudah terkunci dan anak-anak sudah tidur bersamanya. Dalam kehidupan nyata, perhatian Lukas ini dapat kita lihat belakangan dalam kisah-kisah tentang anak-anak Tirus yang bersama dengan ibu mereka untuk menghantar Paulus yang akan berangkat (Kis.21:5). Melalui perhatiannya yang sangat istimewa kkepada anak-anak, Lukas mengarahkan perhatian kita kepada aspek universalisme yang terkandung dalam pemberitaan Kristen. Baik dewasa maupun anak-anak berharga di mata Allah.
Kaum Miskin
Lukas mempunyai perhatian khusus kepada kaum miskin. Ia memakai kata ptochos, “miskin” sepuluh kali, sedangkan Matius dan Markus hanya lima kali. Selanjutnya Lukas memakai kata plousious sebelas kali, sementara Matius dan Markus masing-masing sebanyak tiga dan dua kali. Kebanyakan ia memakai kata “kaya” untuk mengingatkan orang akan bahaya kekayaan, sehingga istilah itu cocok kalau dipakai bersamaan dengan kata “miskin.” Hal pertama yang disebutkan di sini tentang pelayanan Yesus adalah bahwa pelayanan-Nya itu diperuntukan bagi kaum miskin. Hal ini terungkap juga pada jawaban Yesus kepada para utusan Yohanes pembaptis (7:19). Yesus menjawab dengan mengingatkan orang pada karya-karya belas-kasihan-Nya, ketika Ia memberikan penglihatan kepada orang buta, lalu sebagai puncaknya Ia berkata “kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (7:22). Itulah yang membuktikan kebenaran bahwa Mesias dari Allah benar-benar sudah datang.
Ucapan bahagia pertama dalam injil Lukas berbunyi “Berbahagialah kamu hai orang miskin” (6:20). Tidak mudah memahami bagaimana Yesus bisa menyebut orang bahagia karena sesuatu yang tidak mereka pilih sendiri, bahkan yang berusaha mereka hindari. Kata-kata Yesus mau mendorong semangat orang-orang yang telah meninggalkan segala sesutu untuk mengikuti-Nya. Jelas mereka itu miskin karena dunia ini menilai tinggi kekayaan, namun itu bukanlah pertimbangan yang paling penting. Meskipun mereka miskin, mereka diberkati secara melimpah. Kepada orang miskin semacam itulah seluruh pelayanan Yesus ditujukan. Sangat jelas bahwa Lukas menaruh perhatian luas biasa kepada orang miskin, mereka muncul dalam perumpamaan-perumpamaannya. Jadi perhatian istimewa Lukas kepada orang miskin merupakan ciri karyanya. Hal itu menggarisbawahi pentingnya sikap yang tepat di hadapan Allah dan mudahnya kekayaan material menjauhkan orang dari Allah.
Orang yang dipandang Hina
Ajaran Lukas tentang universalisme tampak dari cara dia mengungkapkan kebenaran bahwa Kristus membawa keselamatan bagi orang yang dipandang hina di dunia ini. Dalam Lukas orang-orang yang dipandang hina adalah pemungut cukai (18:9-14), pelacur (7:37-50) dan sejumlah perumpamaan dalan injil (7:41-42; 12:13-21; 15:11-32; 16:1-12; 18:1-8). Jelas Lukas tidak peduli dengan pola-pola kebenaran yang konvensional. Ia benar-benar menyadari bahwa Yesus ingin sekali menyelamatkan orang-orang berdosa dari dosa-dosa mereka dan bahwa Ia sering bergaul dengan orang-orang yang dihukum dan ditolak oleh pemuka agama waktu itu. namun hidup berdosa bukanlah jalan Kristen. Lukas mau menjelaskan kepada kita bahwa ada harapan bagi orang jahat dan yang paling dihina masyarakat. Para pengikut Yesus tidak boleh putus asa pada siapa pun.
Individu
Di mata banyak orang yang memandang secara positif mengenai individual. Karena pribadi orang mempunyai kehendak dan dorongan menuju kebebasan yang harus dijinakan. Karena jika tidak, individu akan membahayakan masyarakat. Namun tidaklah demikian dengan Lukas. Injil adalah suatu berita agung, suatu berita untuk diterapkan secara universal. Meskipun ia menganggap agama Kristen itu agung, Lukas tidak pernah lupa akan pentingnya tiap individu. Ia bercerita kepada kita tentang banyak individu yang tidak kita temukan di lain tempat. Lukas menceritakan mengenai banyak orang yang tidak kita kenal kalau tidak melalui dia, contohnya saja; janda dari Nain yang anak tunggalnya meninggal, Maria dan Martha, Zakheus dan kedua murid dalam perjalanan ke Emaus, dan masih banyak lagi. Menyebutkan secara terperinci semua orang yang disebutkan oleh Lukas berarti membuat suatu daftar yang sangat panjang.
Sudah jelas bahwa Lukas menaruh perhatian besar pada individu-individu, baik yang mendukung kepercayaan Kristen maupun yang menentangnya denagn gigih. Ia sadar betul bahwa di hadapan Allah orang yang paling hina dari antara jemaat-Nya pun mempunyai arti penting.
Doa
Donald Guthrie mengatakan bahwa doa tidak terpisahkan dari prinsip-prinsip iman Kristen. Karena betapa pentingnya doa, maka tepat jika Ronnie W. Floyd mengatakan bahwa “tidak terhitung banyaknya cerita-cerita tentang bagaimana para pendoa ini membaktikan hidup mereka dengan berseru kepada Tuhan”. Jika kita melihat dalam pemberitaan Paulus, ia juga memandang pentingnya doa “mengucap syukur”. Demikian juga dalam tulisan-tulisan Lukas yang melihat doa sebagai aktivitas yang sangat penting orang percaya. Ia menyebut doa dengan istilah “proseuche”, di samping itu Lukas juga menggunakan istilah “deesis” untuk menyebut doa. Kedua istilah ini digunakan Lukas untuk menekankan pentingnya “doa”. Karena melalui Kristus Allah telah melaksanakan karya pentelamatan, maka sebagai konsekuensinya bagi orang percaya adalah bahwa kekuatan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan supaya senantiasa dapat menjalani hidup Kristen bersama Allah. Yesus juga berdoa berdoa dalam melaksanakan tugas pelayanan-Nya dan bahkan secara intendif hal itu dilakukan-Nya saat menghadapi krisis (Luk. 3:21; 5:16; 6:12; 9:18, 28-29; 10:21-22; 11:1; 22:41-45; 23:46). Yesus juga mengajar para murid (Luk. 11:1-4) dan menasihatkan mereka untuk berdoa (Luk. 22:40, 46). Doa tidak hanya bersifat pribadi (berdoa gukan hanya untuk kebutuhan sendiri), tetapi saling mendoakan karena doa yang sejati tidak bersifat egoistis.
Sukacita Bagi Dunia
Lukas memandang bahwa agama Kristen sebagai suatu kepercayaan yang memenuhi seluruh kehidupan dengan sukacita, apapun yang dibuatnya. Bo Reicke mengatakan “ tidak ada penulis Injil atau penulis Perjanjian Baru lain yang lebih sering membicarakan tema sukacita dibandingkan Lukas. Ia kadang-kadang sama dengan penulis Injil Sinoptis lainnya; namun ia “juga berbicara tentang sukacita di banyak nas lainnya dan jauh melampaui penulis Perjanjian Baru lainnya yang sering memakai kata “sukacita”. Perhatian Lukas mengenai “sukacita” itu terlihat dalam Injilnya, yaitu mulai dari awal hingga akhirnya berbicara panjang lebar mengenai sukacita demikian juga dengan sukacita yang dibicarakan dalam Kisah Para Rasul, seperti yang dialami oleh Barnabas ketika di Antiokia (Kis. 11:23), Paulus ketika berada dalam penjara di Filipi juga bersukacita (16:25) dsb. Lukas memperlihatkan alasan yang mendasar mengapa mereka bersukacita, yaitu baik yang dalam Injilnya maupun dalam Kisah Para Rasul. Sukacita yang keluar yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang mendalam dengan penuh ucapan syukur itu terungkap secara spontanitas ketika mendengar kedatangan Sang Juruselamat. Dengan demikian orang memuliakan dan memuji Allah karena karya keselamatan dan kebaikan-Nya.
Katolisisme Awal
Menurut para ahli Lukas adalah penggerak pertama yang melakukan perubahan apa yang disebut dengan katolisme awal dan kadang-kadang dalam pross tersebut menyelewengkan atau menghilangkan ajaran-ajaran penting dari agana Kristen mula-mula. Dalam banyak diskusi soal eskatologi sering sekali muncul dalam pandangan Kasemann katolisme awal sudah terbentuk pada saat pengharapan bahwa parousia akan terjadi dalam waktu dekat sudah lenyap. Jemaat pertama dahulu hidup terus-menerus dalam pengharapan bahwa Yesus bisa datang setiap saat, suatu pengharapan yang menghapuskan sama sekali kebutuhan akan institusi. Akan tetapi bagi Lukas, gagasan bahwa Yesus akan segera kembali sudah menjadi kabur; ia lebih memperhatikan suatu kehidupan jemaat yang sudah mapan, sebagaimana ditujukan dalam sejarah awal jemaat yang ditulisnya. Dalam pandangan ini keselamatan itu merupkan suatu harapan yang baru akan terlaksana pada masa depan; keselamatan itu ditunda sampai pada parousia yang masih jauh.
Terhadap pandangan ini kita bisa mengajukan beberapa pandangan. Ide bahwa jemaat yang mula-mula dulu setiap hari hidup dalam pengharapan akan kedatangan kembali Kristus tidak mempunyai dasar yang kuat yang mau diyakinkan kepada kita oleh para pengikutnya. Tidak ada petunjuk apa pun yang menyatakan bahwa tiap orang percaya berpendapat bahwa pemberitaan injil harus berhenti pada waktu Yesus naik ke surga. Orang selalu berpikir ada masa selang, tetapi berapa lama selang itu tidaklah diketahui orang.
Kedua, sebagaimana yang dilukiskan Lukas, jemaat tidak menempatkan keselamatan pada suatu masa depan yang masih jauh, tetapi memandangnya sebagai realitas masa kini. Roh Kudus aktif bekerja di tengah orang-orang beriman, dan Kisah Para Rasul sangat mengagumi makna penting dari kegiatan Roh itu. selain itu jemaat selalu menoleh ke Kalvari. Karena para penulis PB melihat bahwa berita tentang salib sangat penting.
Eskatologi
Orang-orang yang memandang Lukas sebagai salah seorang pembentuk katolisisme awal kurang begitu memperhitungkan perhatian Lukas pada eskatologi. Menurut Kasemann, usaha Lukas untuk menulis sejarah agama Kristen sebagai sejarah sekuler “menjadi mungkin hanya jika eskatologi Kristen yang mula-mula, yakni kekuatan dinamis dari pewartaan Perjanjian Baru memudar”. Padahal jika kita melihat kalimat yang dicatat oleh Lukas sangat jelas bahwa ia mengakui eskatologi. “Kapak sudah tersedia pada akar pohon” (3:9), “Kerajaan Allah sudah dekat padamu” (10:9), jika pemberitaan itu tidak diterima maka debu kota itu harus dikebaskan dari kaki mereka di depan penduduknya sambil berkata “Tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat” (10:11); Kerajaan Allah ada “di antara kamu” (17:21) . Selanjutnya Lukas memuat ungkapan “Hendaklah kamu sama seperti otang-otang yang menanti-nantikan tiannya...” (12:39) ini memiliki paralel dengan Matisu, tetapi jelas banyak hal yang dicatat oleh Lukas tidak dicatat oleh Matius. Ini memberi kode kepada kita bahwa Lukas bisa jadi memiliki pandangan sendiri tentang eskatologi. Lebih lanjut lagi pengenai pesta perjamuan (14:15). Menurut pemahaman Yahudi perjamuan mesianis merupakan bagian integral dari gambaran tentang eskatologi, jadi ketika Yesus berbirara tentang perjamuan malam, bisa jadi yang ada dalam pikiran-Nya adalah sesuai dengan paham orang Yahudi. Inilah yang dikatakan Bo Reicke, bahwa “Perjamuan hanyalah titik tolak untuk merefleksikan eskatologi. Jika demikian berarti sebagian para ahli yang menilai, bahwa Lukas mengabaikan eskatologi adalah sebuah kesalahan. Justru pandangan mereka sendiri itulah yang menutup mata mereka sehingga tidak dapat melihat bahwa Lukas mempunyai cara bekerja tersendiri. Artinya sudah pasti Lukas mengakui bahwa Yesus berbicara mengenai parousia, sebab ia memasukan juga ucapan: “Pada waktu itu orang akan meliahat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya (21:27). Karena bagi Lukas bagaimana pun eskatologi itu adalah penting. Dan dia tidak mau para pembacanya mencampuradukan eskatologi dengan peristiwa lain dalam sejarah manusia.
Firman
Lukas mengawali Injilnya dengan menyebut “saksi mata dan pelayan Firman (1:2). Selanjutnya ia menyebut “firman Allah” sebanyak 4X dan 3X lagi ia memakai kata “firman”, jalas yang dimaksudkan adalah firman Allah. 1X ia memakai “firman Tuhan”. Dalam Kisah Para Rasul penyebutan di atas lebih meningkat lagi, yaitu “firman Allah” disebut 13X, “firman Tuhan” 10X, “firman” sendiri 13X, selanjutnya juga ada sebutan “firman kasih karunia” dan masing-masing 1X, selanjutnya ada sebutan “firman keselamatan ini” (LAI: “kabar keselamatan” Kis. 13:26) dan “firman Injil ini”. Dari sekian banyak penyebutan di atas ingin menunjukan bahwa ini adalah suatu cara yang digunakan Lukas untuk menekankan pentingnya “firman”. Selain itu Lukas juga ingin mengatakan bahwa apa yang ia tuliskan dalam Injilnya adalah kebenaran yang harus diketahui oleh pembacanya (1:4). Dia menjelaskan bahwa ia telah meneliti segala sesuatu dan menyebut adanya saksi mata (ay.2). Dengan kata lain bahwa apa yang diberitakannya adalah cerita yang benar-benar/ sungguh-sungguh asli dan bisa dipercaya mengenai apa yang diimani orang tentang Yesus. Dengan demikian para pengajar Kristen harus berpegang teguh pada ajaran-ajaran tradisional, jika mereka mau diterima sebagai ajaran yang asli tentang Yesus.
Kesimpulan
Di dalam diri Kristus Allah telah melaksanakan karya penyelamatan yang menyeluruh atau bersifat total dan karya itulah yang menjadikan kita murid-murid Kristus. Akan tetapi menjadi tidak berhenti di situ, yaitu duduk diam serta menikmati keselamatan yang besar itu tanpa tanggapan. Melainkan penulis Injil Lukas sama dengan penulis Injil lainnya yang menekankan pentingnya respons terhadap karya penyelamatan Allah yang besar, yang telah dikerjakan Allah di dalam Yesus Kristus di kalvari.
Tanggapan
Secara keseluruhan pembahasan pada topik Injil Lukas dan Kisah Para Rasul sudah cukup baik. Artinya kekuatan dan kelemahan atau keunggulan dan kekurangan dari setiap penulis buku itu tetap ada. Kekuatan dan kelemahan dari buku ini, terutama mengenai topik pembahasan di atas adalah pembelaan habis-habisan terhadap pola pikir, metode-metode yang dilakukan Lukas mengenai kemuridan. Artinya penulis Injil Lukas memiliki nilai lebih yang sebenarnya tidak pernah diperhatikan oleh para ahli lainnya. Kelemahannya adalah buku ini tidak memperlihatkan atau menyoroti efek dari pemberitaan Lukas, yaitu seperti apa respons perama dari pembaca Injil Lukas.
Karya Allah dalam diri Kristus menuntut suatu tanggapan, dan sama gamblangnya dengan para penulis Injil lainnya Lukas menyatakan bahwa orang harus memberikan tanggapan. Lukas menjelaskan cara yang di mulai dengan pertobatan dan ini harus dilakukan dengan sepenuh hati. Agama Kristen sebagai “jalan Allah” , Lukas memandang kekristenan sebagai suatu cara hidup yang menyeluruh, bukan sekedar sebagai sarana pemuasan dorongan-dorongan religius belaka. Mengikut Yesus memerlukan kebulatan hati, Lukas menyatakan dengan tegas tanggapan ini dibandingkan Injil-injil lain. Sebab para calon murid harus menyangkal diri dan memikul salib yang dilakukan setiap hari.
Beberapa ajaran Yesus tentang kemuridan dalam Injil Lukas adalah:
menjadi murid Yesus berarti mengasihi-Nya sedemikian rupa, sehingga kasih duniawi yang terbesar sekali pun tampak bagaikan kebencian, bila dibandingkan dengan kasih untuk-Nya itu.
menentukan para calon murid dengan mengajukan pertanyaan: (1) “Dapatkah engkau memenuhi tuntutan menjadi seorang murid?”. (2) “Dapatkah kamu menolak menjadi murid?”
kegiatan yang harus dijalani, adalah (1) segala sesuatu dilakukan dihadapan hadirat Allah sebagai bentuk pertanggungjawaban. (2) menyadari bahwa kemuridan itu menyangkut seluruh kehidupannya dan bukan hanya beberapa aspeknya.
Pola Kehidupan
Paulus menjadi contoh pola hidup orang Kristen, karena Paulus taat (Kis 26:19) kepada Kristus dengan giat bekerja untuk Allah. Tanggapan yang diharapkan Lukas dari semua orang yang mau menyatakan diri sebagai pengikut Kristus adalah berbalik kepada Tuhan (Kis 3:19) dengan menjadi “hamba” Allah, mencari Dia (Kis17:27), dan takut akan Dia (Kis 10:2) serta memuji dan memuliakan Allah (Kis 12:23).
Paulus percaya kepada Allah (Kis 27:25), iman sangat penting bagi Lukas. Iman sering dihubungkan dengan penyembuhan. Injil Lukas sering menyatakan “Imanmu telah menyelamatkan engkau” (7:50) dan iman “dalam nama Yesus” (Kis 3:16).
Universalisme
Lukas menyatakan bahwa keselamatan dalam Kristus itu terbuka bagi semua orang dari segala ras, dan kota Yerusalem sebagai klimaks dari karya keselamatan Allah. Ia menekankan peranan Yerusalem dan juga segala sesuatu yang bersifat Yahudi sebagai dasar agama Kristen.
Semua bangsa termasuk dalam lingkup keselamatan, yaitu seluruh dunia orang-orang dari Timur dan Barat, dari Utara dan Selatan.
Kepada orang-orang yang tersisih dan orang-orang yang belum percaya, seperti orang-orang Samaria.
Perhatian Lukas kepada universalisme Injil tidaklah terbatas pada lingkup nasional dan geografis saja tetapi orang dari segala bangsa masuk ke dalam lingkup aktivitas Kristus yang menyelamatkan itu dan juga penting bahwa Injil disampaikan kepada kelompok orang yang dalam hal tertentu dirampas hak-haknya.
Kaum Wanita
Kaum wanita dianggap lebih rendah daripada kaum pria. Dalam kebudayaan Yahudipun terjadi hal demikian. Kedudukan wanita dianggap lebih renah. Wanita wajib setia kepada suaminya, tetapi dia tidak dapat menuntut hal yang sama kepada suaminya. Menurut Jews Encyclopedia, wanita Yahudi tidak dapat menjadi saksi di pengadilan, mereka dianggap sama dengan orang-orang rendah dan mereka tidak ikut dalam kelompok yang menumpangkan-tangan ke atas binatang yang akan dikurbankan. Para rabi tidak menerima wanita sebagai murid. Mereka menganggap sebagai perbuatan dosa ketika mereka mengajar seorang perempuan. Dalam dunia Yunani dan Romawi, sebelum wanita itu menikah, maka ia akan tetap berada di bawah perwalian ayahnya ataupun sanak saudaranya yang laki-laki. Seorang wanita yang sudah akan tunduk di bawah kekuasaan suaminya. Kalau ia tidak dapat memuaskan suaminya, maka ia dapat dikembalikan ke keluarganya atau ke suami lainnya. Di Roma, kedudukan wanita lebih baik walaupun kedudukannya masih tetap lebih rendah daripada pria.
Sikap kristiani lebih terbuka terhadap kaum perempuan. Ini terlihat ketika Yesus mengajar para wanita. Misalnya Maria dan Marta. Sekelompok wanita juga mengiringi perjalanan-perjalanan Yesus. Di sini kita dapat melihat bahwa pandangan Yesus berbeda dengan pandangan orang-orang lain.
Injil Lukas dibuka dengan kisah masa kanak-kanak Yohanes pembabtis dan Yesus. Sudah tentu Injil ini memberi banyak perhatian terhadap para wanita. Misalnya saja: Elisabeth dan Maria, Hana dan janda Nain dengan anak tunggalnya yang dibangkitkan. Lukas juga mengisahkan tengtang wanita bungkuk yang tidak dapat menegakkan tubuhnya, namun pada suatu kali ketika hari Sabat, ia mendapat berkat. Kisah wanita yang bungkuk ini hanya terdapat dalam Injil Lukas. Mungkin hanya Lukas juga yang mengisahkan seorang wanita yang menangis di kaki Yesus ketika Yesus sedang makan di rumah orang Farisi. Lukas dan Markus juga mengisahkan tentang persembahan janda miskin. Ini dapat kita pandang sebagai perhatian Lukas kepada kaum wanita (Luk.21:1-4). Lukas juga menyebutkan beberapa wanita yang bukan Kristen seperti Kandake ratu Etiopia, Drusila isteri wali negeri Feliks. Melalui injil Lukas kita ditolong untuk meelihat perubahan-perubahan luar biasa pada status wanita yang diadakan oleh agama Kristen. Tidak ada penulis PB lain yang lebih jelas menerangkan status kau wanita. Kita juga dapat melihat ketika para rasul melarikan diri ketika yesus ditangkap, tetapi beberapa wanita hadir ketika Yesus disalibkan. Di dalam Alkitab, wanita memiliki peranan penting. Begitu juga dalam jemaat mula-mula, ketika Pentakosta. Disebutkan tidak hanya laki-laki yang percaya, tetapi juga perempuan.
Anak-anak
Bagi dunia kuno dan para guru besar khususnya tidak menganggap anak-anak itu berarti. Tetapi Yesus memberikan perhatian yang luar biasa terhadap anak-anak. Hal ini dicatat oleh Lukas, Matius dan Markus. Ia mengisahkan dibangkitkannya anak perempuan Yairus dari antara orang mati (8:41-56). Lukas juga menceritakan tentang seorang yang anaknya sering mendapat serangan penyakit (9:38-43). Rincian yang sama juga terdapat dalam cerita dibangkitkannya janda Nain (7:12).lukas juga mengisahkan tentang anak yang diambil oleh Yesus untuk mencari seorang anak. Lukas menyelipkan satu ayat tentang anak-anak. Ketika dia mengisahkkan episode tentang seorang yang temannya datang tengah malam untuk meminjam roti. Orang itu enggan meminjamkan dan mengajukan keberatan-keberatan;pintu sudah terkunci dan anak-anak sudah tidur bersamanya. Dalam kehidupan nyata, perhatian Lukas ini dapat kita lihat belakangan dalam kisah-kisah tentang anak-anak Tirus yang bersama dengan ibu mereka untuk menghantar Paulus yang akan berangkat (Kis.21:5). Melalui perhatiannya yang sangat istimewa kkepada anak-anak, Lukas mengarahkan perhatian kita kepada aspek universalisme yang terkandung dalam pemberitaan Kristen. Baik dewasa maupun anak-anak berharga di mata Allah.
Kaum Miskin
Lukas mempunyai perhatian khusus kepada kaum miskin. Ia memakai kata ptochos, “miskin” sepuluh kali, sedangkan Matius dan Markus hanya lima kali. Selanjutnya Lukas memakai kata plousious sebelas kali, sementara Matius dan Markus masing-masing sebanyak tiga dan dua kali. Kebanyakan ia memakai kata “kaya” untuk mengingatkan orang akan bahaya kekayaan, sehingga istilah itu cocok kalau dipakai bersamaan dengan kata “miskin.” Hal pertama yang disebutkan di sini tentang pelayanan Yesus adalah bahwa pelayanan-Nya itu diperuntukan bagi kaum miskin. Hal ini terungkap juga pada jawaban Yesus kepada para utusan Yohanes pembaptis (7:19). Yesus menjawab dengan mengingatkan orang pada karya-karya belas-kasihan-Nya, ketika Ia memberikan penglihatan kepada orang buta, lalu sebagai puncaknya Ia berkata “kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (7:22). Itulah yang membuktikan kebenaran bahwa Mesias dari Allah benar-benar sudah datang.
Ucapan bahagia pertama dalam injil Lukas berbunyi “Berbahagialah kamu hai orang miskin” (6:20). Tidak mudah memahami bagaimana Yesus bisa menyebut orang bahagia karena sesuatu yang tidak mereka pilih sendiri, bahkan yang berusaha mereka hindari. Kata-kata Yesus mau mendorong semangat orang-orang yang telah meninggalkan segala sesutu untuk mengikuti-Nya. Jelas mereka itu miskin karena dunia ini menilai tinggi kekayaan, namun itu bukanlah pertimbangan yang paling penting. Meskipun mereka miskin, mereka diberkati secara melimpah. Kepada orang miskin semacam itulah seluruh pelayanan Yesus ditujukan. Sangat jelas bahwa Lukas menaruh perhatian luas biasa kepada orang miskin, mereka muncul dalam perumpamaan-perumpamaannya. Jadi perhatian istimewa Lukas kepada orang miskin merupakan ciri karyanya. Hal itu menggarisbawahi pentingnya sikap yang tepat di hadapan Allah dan mudahnya kekayaan material menjauhkan orang dari Allah.
Orang yang dipandang Hina
Ajaran Lukas tentang universalisme tampak dari cara dia mengungkapkan kebenaran bahwa Kristus membawa keselamatan bagi orang yang dipandang hina di dunia ini. Dalam Lukas orang-orang yang dipandang hina adalah pemungut cukai (18:9-14), pelacur (7:37-50) dan sejumlah perumpamaan dalan injil (7:41-42; 12:13-21; 15:11-32; 16:1-12; 18:1-8). Jelas Lukas tidak peduli dengan pola-pola kebenaran yang konvensional. Ia benar-benar menyadari bahwa Yesus ingin sekali menyelamatkan orang-orang berdosa dari dosa-dosa mereka dan bahwa Ia sering bergaul dengan orang-orang yang dihukum dan ditolak oleh pemuka agama waktu itu. namun hidup berdosa bukanlah jalan Kristen. Lukas mau menjelaskan kepada kita bahwa ada harapan bagi orang jahat dan yang paling dihina masyarakat. Para pengikut Yesus tidak boleh putus asa pada siapa pun.
Individu
Di mata banyak orang yang memandang secara positif mengenai individual. Karena pribadi orang mempunyai kehendak dan dorongan menuju kebebasan yang harus dijinakan. Karena jika tidak, individu akan membahayakan masyarakat. Namun tidaklah demikian dengan Lukas. Injil adalah suatu berita agung, suatu berita untuk diterapkan secara universal. Meskipun ia menganggap agama Kristen itu agung, Lukas tidak pernah lupa akan pentingnya tiap individu. Ia bercerita kepada kita tentang banyak individu yang tidak kita temukan di lain tempat. Lukas menceritakan mengenai banyak orang yang tidak kita kenal kalau tidak melalui dia, contohnya saja; janda dari Nain yang anak tunggalnya meninggal, Maria dan Martha, Zakheus dan kedua murid dalam perjalanan ke Emaus, dan masih banyak lagi. Menyebutkan secara terperinci semua orang yang disebutkan oleh Lukas berarti membuat suatu daftar yang sangat panjang.
Sudah jelas bahwa Lukas menaruh perhatian besar pada individu-individu, baik yang mendukung kepercayaan Kristen maupun yang menentangnya denagn gigih. Ia sadar betul bahwa di hadapan Allah orang yang paling hina dari antara jemaat-Nya pun mempunyai arti penting.
Doa
Donald Guthrie mengatakan bahwa doa tidak terpisahkan dari prinsip-prinsip iman Kristen. Karena betapa pentingnya doa, maka tepat jika Ronnie W. Floyd mengatakan bahwa “tidak terhitung banyaknya cerita-cerita tentang bagaimana para pendoa ini membaktikan hidup mereka dengan berseru kepada Tuhan”. Jika kita melihat dalam pemberitaan Paulus, ia juga memandang pentingnya doa “mengucap syukur”. Demikian juga dalam tulisan-tulisan Lukas yang melihat doa sebagai aktivitas yang sangat penting orang percaya. Ia menyebut doa dengan istilah “proseuche”, di samping itu Lukas juga menggunakan istilah “deesis” untuk menyebut doa. Kedua istilah ini digunakan Lukas untuk menekankan pentingnya “doa”. Karena melalui Kristus Allah telah melaksanakan karya pentelamatan, maka sebagai konsekuensinya bagi orang percaya adalah bahwa kekuatan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan supaya senantiasa dapat menjalani hidup Kristen bersama Allah. Yesus juga berdoa berdoa dalam melaksanakan tugas pelayanan-Nya dan bahkan secara intendif hal itu dilakukan-Nya saat menghadapi krisis (Luk. 3:21; 5:16; 6:12; 9:18, 28-29; 10:21-22; 11:1; 22:41-45; 23:46). Yesus juga mengajar para murid (Luk. 11:1-4) dan menasihatkan mereka untuk berdoa (Luk. 22:40, 46). Doa tidak hanya bersifat pribadi (berdoa gukan hanya untuk kebutuhan sendiri), tetapi saling mendoakan karena doa yang sejati tidak bersifat egoistis.
Sukacita Bagi Dunia
Lukas memandang bahwa agama Kristen sebagai suatu kepercayaan yang memenuhi seluruh kehidupan dengan sukacita, apapun yang dibuatnya. Bo Reicke mengatakan “ tidak ada penulis Injil atau penulis Perjanjian Baru lain yang lebih sering membicarakan tema sukacita dibandingkan Lukas. Ia kadang-kadang sama dengan penulis Injil Sinoptis lainnya; namun ia “juga berbicara tentang sukacita di banyak nas lainnya dan jauh melampaui penulis Perjanjian Baru lainnya yang sering memakai kata “sukacita”. Perhatian Lukas mengenai “sukacita” itu terlihat dalam Injilnya, yaitu mulai dari awal hingga akhirnya berbicara panjang lebar mengenai sukacita demikian juga dengan sukacita yang dibicarakan dalam Kisah Para Rasul, seperti yang dialami oleh Barnabas ketika di Antiokia (Kis. 11:23), Paulus ketika berada dalam penjara di Filipi juga bersukacita (16:25) dsb. Lukas memperlihatkan alasan yang mendasar mengapa mereka bersukacita, yaitu baik yang dalam Injilnya maupun dalam Kisah Para Rasul. Sukacita yang keluar yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang mendalam dengan penuh ucapan syukur itu terungkap secara spontanitas ketika mendengar kedatangan Sang Juruselamat. Dengan demikian orang memuliakan dan memuji Allah karena karya keselamatan dan kebaikan-Nya.
Katolisisme Awal
Menurut para ahli Lukas adalah penggerak pertama yang melakukan perubahan apa yang disebut dengan katolisme awal dan kadang-kadang dalam pross tersebut menyelewengkan atau menghilangkan ajaran-ajaran penting dari agana Kristen mula-mula. Dalam banyak diskusi soal eskatologi sering sekali muncul dalam pandangan Kasemann katolisme awal sudah terbentuk pada saat pengharapan bahwa parousia akan terjadi dalam waktu dekat sudah lenyap. Jemaat pertama dahulu hidup terus-menerus dalam pengharapan bahwa Yesus bisa datang setiap saat, suatu pengharapan yang menghapuskan sama sekali kebutuhan akan institusi. Akan tetapi bagi Lukas, gagasan bahwa Yesus akan segera kembali sudah menjadi kabur; ia lebih memperhatikan suatu kehidupan jemaat yang sudah mapan, sebagaimana ditujukan dalam sejarah awal jemaat yang ditulisnya. Dalam pandangan ini keselamatan itu merupkan suatu harapan yang baru akan terlaksana pada masa depan; keselamatan itu ditunda sampai pada parousia yang masih jauh.
Terhadap pandangan ini kita bisa mengajukan beberapa pandangan. Ide bahwa jemaat yang mula-mula dulu setiap hari hidup dalam pengharapan akan kedatangan kembali Kristus tidak mempunyai dasar yang kuat yang mau diyakinkan kepada kita oleh para pengikutnya. Tidak ada petunjuk apa pun yang menyatakan bahwa tiap orang percaya berpendapat bahwa pemberitaan injil harus berhenti pada waktu Yesus naik ke surga. Orang selalu berpikir ada masa selang, tetapi berapa lama selang itu tidaklah diketahui orang.
Kedua, sebagaimana yang dilukiskan Lukas, jemaat tidak menempatkan keselamatan pada suatu masa depan yang masih jauh, tetapi memandangnya sebagai realitas masa kini. Roh Kudus aktif bekerja di tengah orang-orang beriman, dan Kisah Para Rasul sangat mengagumi makna penting dari kegiatan Roh itu. selain itu jemaat selalu menoleh ke Kalvari. Karena para penulis PB melihat bahwa berita tentang salib sangat penting.
Eskatologi
Orang-orang yang memandang Lukas sebagai salah seorang pembentuk katolisisme awal kurang begitu memperhitungkan perhatian Lukas pada eskatologi. Menurut Kasemann, usaha Lukas untuk menulis sejarah agama Kristen sebagai sejarah sekuler “menjadi mungkin hanya jika eskatologi Kristen yang mula-mula, yakni kekuatan dinamis dari pewartaan Perjanjian Baru memudar”. Padahal jika kita melihat kalimat yang dicatat oleh Lukas sangat jelas bahwa ia mengakui eskatologi. “Kapak sudah tersedia pada akar pohon” (3:9), “Kerajaan Allah sudah dekat padamu” (10:9), jika pemberitaan itu tidak diterima maka debu kota itu harus dikebaskan dari kaki mereka di depan penduduknya sambil berkata “Tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat” (10:11); Kerajaan Allah ada “di antara kamu” (17:21) . Selanjutnya Lukas memuat ungkapan “Hendaklah kamu sama seperti otang-otang yang menanti-nantikan tiannya...” (12:39) ini memiliki paralel dengan Matisu, tetapi jelas banyak hal yang dicatat oleh Lukas tidak dicatat oleh Matius. Ini memberi kode kepada kita bahwa Lukas bisa jadi memiliki pandangan sendiri tentang eskatologi. Lebih lanjut lagi pengenai pesta perjamuan (14:15). Menurut pemahaman Yahudi perjamuan mesianis merupakan bagian integral dari gambaran tentang eskatologi, jadi ketika Yesus berbirara tentang perjamuan malam, bisa jadi yang ada dalam pikiran-Nya adalah sesuai dengan paham orang Yahudi. Inilah yang dikatakan Bo Reicke, bahwa “Perjamuan hanyalah titik tolak untuk merefleksikan eskatologi. Jika demikian berarti sebagian para ahli yang menilai, bahwa Lukas mengabaikan eskatologi adalah sebuah kesalahan. Justru pandangan mereka sendiri itulah yang menutup mata mereka sehingga tidak dapat melihat bahwa Lukas mempunyai cara bekerja tersendiri. Artinya sudah pasti Lukas mengakui bahwa Yesus berbicara mengenai parousia, sebab ia memasukan juga ucapan: “Pada waktu itu orang akan meliahat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya (21:27). Karena bagi Lukas bagaimana pun eskatologi itu adalah penting. Dan dia tidak mau para pembacanya mencampuradukan eskatologi dengan peristiwa lain dalam sejarah manusia.
Firman
Lukas mengawali Injilnya dengan menyebut “saksi mata dan pelayan Firman (1:2). Selanjutnya ia menyebut “firman Allah” sebanyak 4X dan 3X lagi ia memakai kata “firman”, jalas yang dimaksudkan adalah firman Allah. 1X ia memakai “firman Tuhan”. Dalam Kisah Para Rasul penyebutan di atas lebih meningkat lagi, yaitu “firman Allah” disebut 13X, “firman Tuhan” 10X, “firman” sendiri 13X, selanjutnya juga ada sebutan “firman kasih karunia” dan masing-masing 1X, selanjutnya ada sebutan “firman keselamatan ini” (LAI: “kabar keselamatan” Kis. 13:26) dan “firman Injil ini”. Dari sekian banyak penyebutan di atas ingin menunjukan bahwa ini adalah suatu cara yang digunakan Lukas untuk menekankan pentingnya “firman”. Selain itu Lukas juga ingin mengatakan bahwa apa yang ia tuliskan dalam Injilnya adalah kebenaran yang harus diketahui oleh pembacanya (1:4). Dia menjelaskan bahwa ia telah meneliti segala sesuatu dan menyebut adanya saksi mata (ay.2). Dengan kata lain bahwa apa yang diberitakannya adalah cerita yang benar-benar/ sungguh-sungguh asli dan bisa dipercaya mengenai apa yang diimani orang tentang Yesus. Dengan demikian para pengajar Kristen harus berpegang teguh pada ajaran-ajaran tradisional, jika mereka mau diterima sebagai ajaran yang asli tentang Yesus.
Kesimpulan
Di dalam diri Kristus Allah telah melaksanakan karya penyelamatan yang menyeluruh atau bersifat total dan karya itulah yang menjadikan kita murid-murid Kristus. Akan tetapi menjadi tidak berhenti di situ, yaitu duduk diam serta menikmati keselamatan yang besar itu tanpa tanggapan. Melainkan penulis Injil Lukas sama dengan penulis Injil lainnya yang menekankan pentingnya respons terhadap karya penyelamatan Allah yang besar, yang telah dikerjakan Allah di dalam Yesus Kristus di kalvari.
Tanggapan
Secara keseluruhan pembahasan pada topik Injil Lukas dan Kisah Para Rasul sudah cukup baik. Artinya kekuatan dan kelemahan atau keunggulan dan kekurangan dari setiap penulis buku itu tetap ada. Kekuatan dan kelemahan dari buku ini, terutama mengenai topik pembahasan di atas adalah pembelaan habis-habisan terhadap pola pikir, metode-metode yang dilakukan Lukas mengenai kemuridan. Artinya penulis Injil Lukas memiliki nilai lebih yang sebenarnya tidak pernah diperhatikan oleh para ahli lainnya. Kelemahannya adalah buku ini tidak memperlihatkan atau menyoroti efek dari pemberitaan Lukas, yaitu seperti apa respons perama dari pembaca Injil Lukas.
Selasa, 10 November 2009
UCAPAN ILAHI TERHADAP BANGSA BABILONIA
UCAPAN ILAHI TERHADAP BANGSA
BABILONIA
(Yesaya 13:1-22)
Pendahuluan
Pasal 13 merupakan salah satu bagian dari rentetan nubuatan yang sangat panjang, yang meliputi pasal 13-23, yang memuat ucapan ilahi. Namun kita akan melihat satu bagian saja, yaitu Yesaya 13 dengan “ucapan ilahi” yang ditujukan kepada Babel. Situasi dalam pasal ini membawa kita ke masa pembuangan abad ke-6 sM. Ada yang mengatakan ini terjadi setelah raja Nebukadnezar meninggal pada tahun 604-562 sM (Bentzen-587-550 sM; Leslie dan Others - 550 sM dan Weiser - 538 sM)[1], sedangkan Raja Cyrus dari Madai belum naik tahta (550 sM) dan kekuatan Babel menurun. Pandangan seperti ini kini sudah semakin umum diterima.
“Ucapan ilahi terhadap Babel yang dinyatakan kepada Yesaya bin Amos” Yes. 13:1[2].
Pasal ini menjadi menarik karena nama Babel disebutkan pada ayat 19. Dalam Alkitab Babel selalu digambarkan sebagai kuasa dunia yang sombong dan menantang atau memusuhi Tuhan (Kej. 11; Wah. 18:4-20)[3]. Ketika membaca pasal ini, kita akan melihat bahwa ayat-ayat di sini tidak memperlihatkan adanya hubungan yang khusus dengan nama Babel yang disebutkan di ay. 19. Ayat 2-16 menggambarkan murka Tuhan yang umum sekali, yang akan dinyatakan pada hari Tuhan. Mungkin bagian ini akan lebih cocok jika kita hubungkan dengan Yoel 2:1-11, 30-32; Zefanya 1:14-18, Zakaria 14:2, 6. Pada ayat 17-22 barulah berita hukuman itu dihubungkan dengan Babel yang akan dihancurkan oleh bangsa Madai (band. Yer. 50:1-51:58). Mustahil nabi tidak memahami situasi pada masanya, karena Madai barulah menjadi kuat 200 tahun kemudian. Maka dalam paper ini kita akan melihat mengapa nama Babel dan siapa yang disebut Babel?
Pembahasan
I. Kanon
Dalam kanon Ibrani kitab kitab ini disebut Yesaya masuk dalam kitab Nebiim Akharonim. Kitab Yesaya salah satu kitab nabi-nabi yang memberitahukan runtuhnya kota Yerusalem dan nubuat-nubuatnya terjadi. Oleh sebab itu, kitab ini memiliki wibawa yang besar bagi orang-orang Yahudi yang ada di pembuangan. Kemudian kitab-kitab ini baru dibukukan sesudah pembuangan. Dengan demikian kitab Yesaya di dalam kanon Ibrani jelas penempatannya, karena kitab ini juga dikenal dalam kitab Jezuz Sirach (190 sM) dan di dalamnya dituliskan mengenai Syiro-Efraim. Selain itu juga menuliskan mengenai “penghiburan Sion” (Sir. 48:24; Yes. 40:1; 61:1, 2)[4]. Dari penjelasan di atas memperlihatkan, bahwa kitab ini dimasukan dalam kanon karena memiliki kewiwaban ilahi.
II. Latar Belakang Sejarah
Yesaya mendapat penglihatan atas Yehuda dan Yerusalem pada masa pemerintahan raja Uzia (1:1). Tapi ia baru menerima panggilan Allah ketika raja Uzia meninggal (Ps. 6)[5]. Dengan demikian Yesaya mulai melayani pada masa pemerintahan Yotam, Ahaz dan Hizkia, yakni tahun 740-690/ 680 sM atau abad ke-8. Pada masa itu kerajaan Asyur sangat dominan[6]. Raja Pekah dari Israel Utara dan Rezin dari Aram mengajak Ahaz bergabung untuk melawan Asyur. Tapi Ahaz menolak, sehingga terjadi perang saudara (syiro-Efraim) (2 Raj. 15:37), yaitu Yehuda diserang oleh raja Pekah dan Rezin 16:5-9; 2Taw. 28:5-21). Raja Ahaz pun meminta bantuan Tiglat-Pileser III raja Asyur dan menaklukan keduanya[7]. Yehuda mengalami krisis yang sangat hebat karena rajanya tunduk kepada Asyur[8]. Ketika berkunjung ke Damsik, Ahaz kultus-kultus dari sana kemudian ia mendirikan mezbah dewa di Yerusalem dan mengajak rakyat menyembahnya (2 Raja. 16:10). Selain itu Ahaz juga mengambil alih kultus dari dunia Semitis Barat, yaitu dewa Molokh[9] yang kepadanya mereka mempersembahkan anak sulung, maka tidak heran jika Ahaz juga mempersembahkan anak sulungnya kepadanya (2 Raja. 16:3).
Yerusalem yang terkenal sebagai kota kedilan, “kota suci”, tetapi tercemar oleh kekafiran. Wahono mengatakan, bahwa di Yerusalem pernah terjadi dua pristiwa besar, yaitu “pemindahan tabut Allah ke dalam kota Yerusalem dan nubuat nabi Natan yang mengatakan, bahwa keturunan Daud akan memerintah seluruh Israel atas perkenaan Allah” (2 Sam.7)[10]. Kedua pristiwa besar itu selalu dipringati dan dirayakan dengan menaikan nyanyi-nyanyian khusus (Maz. 78 : 67-72). Kota Yerusalem dijuluki sebagai “kota Raja Besar” (Maz. 48 : 3) dan “kota Daud”. Karena di situlah Daud memberlakukan dan sangat menekankan keadilan ilahi yang harus dilakukan oleh seluruh umat Israel. Kedua pristiwa itu dipahami sebagai tindakan Allah yang memilih gunung Zion sebagai tempat Kudus-Nya (tinggal-Nya). Allah memilih dinasti Daud supaya keturunannya secara turun-temurun tetap memerintah atas Israel. Mungkin nubuatan nabi-nabi di Yehuda dipengaruhi oleh tradisi-tradisi ibadah yang ada di Yerusalem, yaitu tradisi mengenai perjanjian Tuhan tentang dinasti Daud (Yes. 2:2-4; Mika 4:1-4). Meskipun Amos juga menerapkan tradisi perjanjian itu (Amos 1:2; 9:11-12), tetapi tidak seberapa menonjol dibandingkan dengan Yesaya. Dalam pemberitaan Yesaya, gunung Zion sangat ditekankan sebagai tempat berkumpulnya bangsa-bangsa dan Israel (67 kali gunung disebutkan). Dalam pemberitaannya ada dua aspek yang ditekankan oleh Yesaya dalam tradisi perjanjian Tuhan mengenai dinasti Daud, yakni penyataan penghukuman atas dosa Yerusalem dan menyatakan kuasa dan kemenangan Tuhan atas bangsa-bangsa. Keyakinan akan kehadiran Yahweh di gunung Zion melahirkan suatu pengharapan yang besar yang memberikan jaminan keamanan bagi umat-Nya. Sebaliknya Allah juga akan memberikan penghukuman bagi umat-Nya atas pelanggaran-pelanggaran yang mereka lakukan dan musuh-musuh yang ditaklukan (Yes. 8:9-22; 14:32; 17:12; 28:14-18). Artinya adalah bahwa kota Yerusalem dibangun berdasarkan dua janji besar ilahi kepada Daud dan tempat kehadiran Allah di dalam Bait-Nya. Tindakan Ahaz yang berseru (meminta bantuan) pada Asyur memperlihatkan ketidakyakinannya pada janji Allah mengenai jaminan akan keteguhan dan keselamatan kerajaan. Ketidakyakinan akan janji Allah yang menjadi jaminan berubah menjadi peringatan akan datangnya hukuman atas umat-Nya. Kedatangan Asyur bukan memberikan bantuan, melainkan sebagai “cambuk murka Allah`( “the rod of God’s anger”)[11] untuk menghukum umat-Nya yang bersalah (10:5-6).
Yehuda menjadi tawanan Asyur dan pada masa pemerintahan Hizkia, ia berusaha melepaskan kerajaan Yehuda dari kekuasaan Asyur. Kebetulan kerajaan Mesir mulai kuat dan bangsa-bangsa kecil merasa terdorong untuk membrontak terhadap Asyur. Maka tahun 713 sM kerajaan Asdod memberontak terhadap Asyur, kemudian disusul oleh kerajaan Edom dan Moab, tetapi Yehuda tidak. Sehingga tidak ada alasan bagi Asyur untuk menghukum Yehuda ketika pemberontakan itu berhasil diredakan karena rajanya tunduk pada raja Asyur (Sargon II). Ketika raja Sargon II meninggal dan Sanherib belum naik takhta, maka saat itulah waktu yang tepat bagi Hizkia untuk membrontak dan melepaskan kerajaan Yehuda dari Asyur[12]. Ketika Sanherib naik tahkta bangsa-bangsa yang memberontak, baik yang ada di kawasan Palestina maupun yang ada di wilayah-wilayah seberang sungai Yordan (Tirus, Biblos, Arvad, Asdod, Moab, Edom dan Amon) dibuat menderita oleh Sanherib, termasuk Yehuda (2Raja-raja 18:13-16). Menurut pasal ini juga Hizkia terpaksa mengerat emas dari Bait Allah untuk membayar upeti kepada Sanherib. Yerusalem dikepung dan dikatakan bahwa Hizkia dikurung seperti seekor burung dalam sangkar (2Raj.18:17-19:9). Dari latarbelakang sejarah singkat di atas memberitahukan bahwa Yesaya bernubuat diperkirakan dari tahun 740-690 sM (abad ke-8).
Yesaya 13 memuat bahan-bahan yang berasal dari masa yang berbeda-beda ada yang berasal dari masa sebelum pembuangan dan juga sebelum pembuangan. Para ahli mengatakan bahwa saat itu masih banyak lagi bahan-bahan yang masih belum terkumpul satah satunya adalah Yesaya 13 ini. (lihat. Rowley, 1963 : 91; Ch Barth, Vol-4, 1993 : 55). Artinya judul itu dicantumkan oleh seorang rekaktor atau pengikut tradisi Yesayanis pada jaman yang lebih kemudian, yaitu supaya tidak terjadi kekeliruan atau kesalahpahaman oleh pembaca yang kemudian. Bagaimana dengan nama Babel dan mengapa nubuat Babel juga tercatat pada 21? Jika kita perhatikan ayat-ayat pertama yang memuat “ucapan Ilahi”, maka jelas bahwa yang dimaksudkan bukanlah kota atau bangsa tertentu, melainkan nama Babel dipakai sebagai istilah untuk menyebut semua kerajaan yang melawan Allah Yang Mahatinggi. David F. Hinson mengatakan, bagaimana pun Babel tetap mempengaruhi penduduk di Yehuda karena kerajaan Babilonia kuno telah runtuh sekitar seratus tahun setelah berdirinya[13]. Erlandsson juga mengatakan, “the kings of Assyria also assumed the title ‘King of Babylon’ thus submitting themselves to the claims of the priests of Marduk”[14], salah satunya adalah raja Tiglath-Pileser III 729 sM (Band. J. Andrew D. 1992 : 78-79; Geoffrey W. Grogan 1986 : 98-99).
III. Konteks terbatas
Para ahli memberi tanggapan bahwa Yesaya 13 ini asli dari Yesaya sendiri, yang berasal dari abad ke-8. Baik Erlandsson, Clements, Ch Barth, Rowley, Otto Kaiser dll setuju bahwa ini berasal dari Yesaya sendiri. Meskipun beberapa ahli juga ada menolak bahwa Yesaya 13 ini asli dari Yesaya. Tapi saya kira tidak begitu penting untuk mengetahui siapa penulisnya, melainkan isi pemberitaannya. Paling sedikit ada 3 alasan yang menunjukan bahwa ini berasal dari Yesaya, yaitu:
· 13:1, 1:1 dan 2:1 memberitahukan bahwa bagian ini pada umumnya saling terpisah satu sama lain yang kemudian digabungkan oleh seseorang yang mengikuti tradisi Yesayanis dan menghubungkannya dengan kejatuhan Babel tahun 539 sM.
· Bahasanya yang khas, yaitu mengecam dan mencela ketidakadilan yang dilakukan oleh para pemimpin Yehuda. Oleh sebab itu harus dimurnikan melalui hukuman-Nya.
· Kata “massa” ditujukan kepada bangsa yang melawan Allah yang Mahakudus.
IV. Tafsiran Yesaya 13:1-22
(a). Yes. 13:1 “Ucapan ilahi terhadap Babel yang dinyatakan kepada Yesaya bin Amos”.
Kata “massa” digunakan nabi untuk menunjukan bahwa berita yang disampaikannya itu benar-benar berasal dari Tuhan. Kata “massa” ini memuat hukuman yang ditujukan kepada Babel. Mungkin pemberian judul ini dipengaruhi oleh Yer. 51:24, yang ditambahkan kemudian oleh redaktor[15]. Kata “massa” dalam 13:1 menjadi sangat penting, yang dipakai sebagi teknis di bidang nubuat kenabian. Arti dasarnya adalah “mengangkat”, kemudian dihubungkan dengan pengertian “mengangkat suara” (Otto Kaiser, 1974 :1). Dalam konteks kitab Keluaran 23:5 dan Bilangan 4 istilah “massa” diterjemahkan “burden” yang artinya “beban” yang dikaitkan dengan perkakas Kemah Suci. Mungkin karena perkakas itu berat maka disebut “beban”. Tidak sembarang orang bisa menyentuhnya, hanya bani Kehat dan bani Gerson dari suku Lewi yang ditugaskan untuk mengangkat perkakas tersebut. Siapa yang menyentuhnya langsung mati (Bil. 4:15, 16-20, 47, 49). Dalam konteks nubuatan, Yesaya adalah nabi pertama menggunakan istilah ini. Mungkin sekali bahwa firman Tuhan yang didengar oleh sang nabi merupakan suatu “beban” yang harus diangkat. Diangkat di sini dalam arti firman Tuhan itu “harus disampaikan”. Jika kita kaitkan dengan Kemah Suci, maka kata “massa” ini juga digunakan untuk mengatakan bahwa Allah hadir ditengah-tengah umat-Nya. Oleh sebab itu kata ini menjadi penekanan penulis bahwa berita yang disampaikannya sungguh-sungguh berasal dari Tuhan. Siapa yang menolak pemberitaan itu, berarti ia menolak kehadiran atau firman Tuhan dan ia sudah masuk dalam lingkaran hukuman-Nya (menjadi musuh-Nya). Ketika sudah menjadi musuh-Nya, ia wajib dan harus dihukum. Baik umat-Nya maupun bangsa-bangsa lain.
Dengan demikian kita melihat bahwa kata “massa” sangat erat kaitannya dengan hukuman Allah (band. Yer. 23:33-38). Selain Yesaya, nabi Nahum. 1:1; Habakuk. 1:1; Zakaria. 9:1; 12:1 dan Maleaki. 1:1) juga menggunakan kata “massa” yang menunjuk kepada hukuman Tuhan yang akan dilaksanakan pada “hari Tuhan”. Ternyata Yes. 13:1 ini memberikan keterangan yang lengkap kepada kita mengenai isi, sifat dan nama nabi. LAI menterjemahkan ”massa” : “Ucapan Ilahi”. Sifat dari nubuat yang disampaikan oleh nabi menjadi jelas. Dalam terjemahan kuno, seperti Vulgata dan Targum, kata “massa” diterjemahkan dengan “burden” : “beban”, sedangkan dalam terjemahan baru menggunakan kata “oracle” yang dihubungkan dengan “mengangkat suara” atau “orang yang menyampaikan pesan para dewa”. “Ucapan ilahi” ini ditujukan kepada Babel, meskipun nama Babel baru disebutkan pada ayat 19.[16] Untuk itu kita harus memahami sejarah kuno Babilonia itu sendiri supaya tidak salah paham dan di bagian latar belakang tadi sudah dijelaskan bahwa kerajaan Babilonia kuno telah runtuh sekitar seratus tahun setelah Asyur berkuasa atau berdiri. Sehingga pengaruh Babel itu kuat sekali khususnya di Yehuda dan setiap raja yang memerintah Babel dianggap sebagai manusia setengah dewa. Artinya raja itu berkuasa mutlak atas rakyatnya karena ia merupakan anak ilahi.
(b). Yes. 13:2-5 Yahweh yang mempersiapkan tentara bangsa-bangsa
Ayat 2 sepertinya berhubungan dengan Yer. 51:12, 27 lihat kata seunes yang juga dimuat oleh Yeremia. Tidak jelas siapa menaikan panji-panji di atas gunung yang gundul dan berseru dengan suara nyaring sambil melambaikan tangan (ay. 2). Seruan dengan suara nyaring dan lambaian tangan merukanan ajakan, bahwa mereka telah siap untuk berperang dan menyerbu pintu-pintu gerbang para bangsawan (band. Roland de Vaux, 1961 : 227). Jika kita hubungkan dengan Babel, maka tidak salah juga karena di sana banyak juga para bangsawan dan orang-orang yang kaya yang berkuasa dengan sewenang-wenang dan mereka mengabaikan orang-orang yang lemah, miskin dan tidak berdaya. Jika kita perhatikan kata limquddasy dari kata kados (ay. 3), LAI: “Kukuduskan”. Kata ini menunjukan bahwa mereka yang akan melaksanakan murka-Nya adalah bangsa yang benar-benar kuat. Arti Kukuduskan disitu adalah “dikhususkan” atau “disendirikan”. Tuhanlah yang mempersiapkan dan memakai mereka sebagai alat-Nya. “Orang-orang yang Kukuduskan di sini juga tidak berarti kudus secara moral sebagaimana yang dijelaskan pada ayat 16”[17]. Pernyataan ini tidak memperhatikan arti kata kudus pada umumnya, karena hanya Allah-lah yang kudus dan hanya orang-orang yang dikuduskan yang diizinkan (layak) bertemu dengan Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang perkasa, beria-ria dan bangga kerena mereka dipilih Tuhan. Dalam bagian ini kita melihat bahwa tidak hanya Israel yang akan menjadi umat pilihan Tuhan. Tetapi kesempatan ini juga diberikan kepada semua bangsa untuk mengenal Dia. Karena kata “Kukuduskan” memiliki akar kata yang sama, yakni “qadosy”. Ketika Allah memilih mereka maka saat itu mereka telah masuk dalam lingkaran kepunyaan-Nya dan ketika mereka melaksanakan hukuman tidak sesuai dengan rencana-Nya, maka mereka pun wajib menerima hukuman yang sama dengan Israel.
Pada ayat 4 kata beharim LAI: “Gunung-gunung” mendapat perhatian dari penulis (liht ay. 2). Mungkin gunung-gunung ini juga yang dimaksudkan Abraham sebagai ”gunung Tuhan” (kej.22:14; Yes.2:3; 30:29). Dalam tradisi ibadat di Yerusalem dinasti Daud di sebut sebagai tempat tinggal Yahweh. Jika tentara-tentara itu kita hubungkan dengan orang-orang Madai (13:17) maka gunung-gunung itu terletak di sekitar tanah Madai, yaitu di sebelah timur-laut Babel. Dari ayat ini semakin terlihat bahwa Tuhan adalah penguasa atau berdaulat atas alam semesta dan panglima perang tertinggi yang mempersiapkan dan memeriksa pasukan perang-Nya untuk memusnahkan seluruh bumi. Siapa pasukan perang-Nya? ayat 5 menunjukan, “mereka datang dari negeri jauh, ya dari ujung langit ”kolhaares” RSV: “the whole earth”. Terjemahan modern seperti NIV: “the whole country” atau “the whole land”. Bangsa yang datang dari ujung langit itu akan memusnahkan Babel (to destroy the whole of Babylonia)[18]. Widyapranawa menyebutkan, bahwa mereka yang akan datang dari ujung langit itu adalah Persia yang kemudian bergabung dengan kerajaan Madai (mereka disebut Madai-Persia). Saya kira ayat 5 sangat jelas menunjukan bahwa “mereka” yang dimaksud adalah menunjuk kepada Tuhan, dan Tuhan akan memakai bangsa yang kuat untuk melaksanakan murka-Nya. Sebagai buktinya adalah tahun 612 sM Asyur dimusnahkan oleh Babilonia-Persia dan kotanya habis dibakar dan rajanya pun ikut dibakar bersamaan kota Asyur[19], dan 73 tahun kemudian Madai-Persia menghancurkan Babel 539 sM. Ternyata kesombongan yang mereka miliki mendatangkan malapetaka yang besar, yang tidak bisa dihentikan oleh manusia.
(c). Yes. 13:6-13 Hari Tuhan adalah pemusnahan dan kebengisan.
Ayat 6 memulai bagian ini dengan “merataplah” karena hari Tuhan sudah dekat[20]. Dalam PL konsep tentang “yom yhwh” : “hari Tuhan” sudah dikenal pada abad ke-8 sM (Amos 5:18-20). Pada saat itu kuasa Tuhan Yang Mahakudus akan dinyatakan kepada orang fasik, termasuk orang Israel yang meninggalkan Allah dan beribadah kepada allah asing. Beberapa ahli PL merumuskan asal-usul mengenai hari Tuhan seperti G. Von Rad yang menghubungkannya “perang suci”; Mowinckel menghubungkannya dengan “pesta panen” (Hos.9:5); Weiss menghubungkannya dengan “teofani”[21]. Ternyata mengenai hari Tuhan masih timbul bermacam-macam pendapat. John Bright melihat bahwa hari Tuhan itu berasal dari pengalaman Israel dalam sejarah yang dialami secara pribadi. Tradisi ibadah di Yerusalem sangat berpengaruh dalam pemberitaan Yesaya. Dan tradisi ibadat di Yerusalem dipengaruhi dua peristiwa besar yang pernah terjadi di Yerusalem, yakni pemilihan Zion sebagai tempat kudus-Nya dan pemilihan dinasti Daud yang secara turun-temurun keturunan Daud akan tetap memerintah Israel. Dan jika kita melihat pemberitaan Yesaya hampir semua bertolak dari dua peristiwa itu, demikian juga penghukuman maupun pengharapan juga bertolak dari situ.
Hari Tuhan adalah hari pemusnahan, yaitu di mana mereka yang menjadi musuh Allah harus dimunsahkan. “Mertaplah” merupakan seruan secara umum. Nabi menggunakan kata “helilu” RSV: Wail LAI: “merataplah”. Kata ini memuat perintah yang sangat tegas, yang mana nabi ingin menekankan bahwa “hari Tuhan itu sebenarnya sudah terjadi, tetapi tidak dirasakan oleh mereka. Kenapa? karena telinga mereka telah berat untuk mendengarkan dan hati mereka telah tertutup terhadap kebenaran, keadilan dan kedamaian yang diharapkan. (band. Clements, 1980. hal 134). Istilah “hari Tuhan” mempunyai arti yang khusus, yaitu di mana Tuhan akan menyatakan murka-Nya dan penghukuman secara universal terhadap seluruh bumi. Hari itu adalah hari yang sangat dasyat dan menakutkan ketika anugerah (kasih karunia) sudah lewat. Dikatakan lagi bahwa ketika hari itu datang, maka manusia menjadi tidak berdaya. Seakan-akan manusia lumpuh secara fisik/ mental, manusia hanya terkejut saja: hati menjadi tawar, sakit mulas dan sakit beranak. Perhatikan kata “sirim” Clements mengatakan kata ini berasal dari bahasa Arab, yaitu “massarun” : sakit pada bagian perut[22]. atau “mereka lemah tidak berdaya dengan perasaan takut”, RSV: “their faces will be aflame” selain itu juga mereka dilanda kepanikan, waktu yang mencekam, putus asa muka mereka memerah. LAI: “seperti orang yang demam”. Mungkin merah di sini dihubungkan dengan “perasaan malu atau dipermalukan”, dalam arti mereka merasa sangat menyesal, karena menolak atau tidak mau mendengarkan firman-Nya. Kata lehabim dari kata lahab RSV : aflame dan blade : menyala, terbakar dan mata pedang. Mungkin karena rasa takut yang tidak pernah dialami oleh manusia selama hidupnya TBC: pucat[23].
Selanjutnya kata hinneh (ay.9) RSV: behold, LAI: lihat, lihatlah, sungguh, sesungguhnya. Ini menunjukan bahwa “hari Tuhan” yang datang bukanlah tindakan penyelamatan Allah yang membawa sukacia atau damai sejahtera, melainkan murka-Nya. Sungguh hari Tuhan datang denagan kebengisan, yaitu di mana seluruh bumi dan orang-orang berdosa akan dimusnahkan. Bintang-bintang, matahari dan bulan akan berhenti dan tidak akan bercahaya lagi, supaya bangsa-bangsa yang menyembah Bintang-bintang, Matahari dan Bulan melihat bahwa hanya Yahweh-lah yang berkuasa (ay.10) (2Raja 23:5, 11).[24] Selain itu Tuhan juga akan memusnahkan orang-orang fasik, orang-orang yang sombong, pemberani, congkak dan gagah karena mereka adalah musuh-Nya (ay.11) oleh sebab itu mereka harus dimusnahkan. Tidak seorang pun yang bisa melarikan diri dari murka-Nya. Pada ayat 12 kita menemukan suasana yang sangat berbeda sekali, di atas memberitahukan bahwa tidak seorang pun yang bisa lolos dari murka-Nya. Secara logika sangat mustahil. Tetapi pada ayat 12 memberitahukan bahwa ada mereka yang bisa lolos dari murka-Nya. Coba perhatikan kalimat:
Yesaya 13: 12 “Oqir enos mippaz weadam mikketem opir”
LAI : “Aku akan membuat orang lebih jarang dari pada emas tua, dan manusia lebih jarang dari pada emas Ofir.”
Usulan terjemahan : “Aku akan membuat orang lebih berharga dari emas tua, dan manusia dari emas Ofir.” Karena saya melihat bahwa kata ‘oqir bisa juga diterjemahkan dengan “make precious, rare”, dan Ensiklopedi-jeild II, hal 181 menterjemahkannya : “Aku akan membuat mahal” .
Ini menunjukan bahwa manusia itu sangat berharga di mata Allah, dan dalam bagian ini juga ingin memberitahukan kepada kita bahwa Allah adalah pemilik hidup manusia. Ketika kita mengatakan bahwa Allah pemilik hidup, berarti manusia tidak punya hak sama sekali untuk memeras, melakukan ketidakadilan kepada sesamanya terlebih meniadakan nyawa sesamanya. Nabi Yoel mengatakan bahwa mereka yang lolos itu atau selamat adalah mereka yang berseru kepada Allah (Yoel 2:23). Dalam hal ini Yesaya menyebut mereka dengan istilah “sear”, yaitu Yes. 10:20, 21, 22; 11:11 yang diterjemahkan RSV: remainder, remnant: LAI: “sisa Israel”. Sisa tidaklah sama dengan bekas. “Sisa Israel” lebih berharga dari emas tua dan emas Ofir[25]. Meskipun Allah murka terhadap umat-Nya, namun Ia tetap menyediakan (memberikan) pengharapan kepada mereka yang mau berseru, berbalik dan bertobat kepada-Nya. Di ayat 13 ditegaskan kembali mengenai murka Allah yang dikatakan di ayat 10 tadi. Dikatakan murka Tuhan meluap-luap, kata yang digunakan tr:b.[,B. (be`ebrat) dari kata ebrah RSV : wrath, LAI : “mennyeala-nyala”. Kata ini menjelaskan bahwa murka-Nya akan ditumpahkan pada “hari itu juga”, langit akan gemetar dan bumi bergoncang pada waktu Tuhan murka terhadap kerajaan yang memusuhi Dia. Kalau kita melihat dalam Perjanjian Baru kemarahan Allah dihubungkan dengan gempa bumi yakni mengenai “hari terakhir” (Mat. 24:29; 2 Pet. 3:10; Wah. 6:9-17).
(d). Yes. 13:14-16 Kemana manusia harus pergi (berlindung)?
Hari Tuhan sungguh mengerikan, manusia diibaratkan kijang yang dikejar-kejar, dan mereka seperti domba yang tidak digembalakan. Jelas dari ungkapan ini ingin memperlihatkan mereka itu adalah orang yang memusuhi Allah. Mereka hanya mengandalkan kekayaan, harta maupun kekuasaan yang mereka miliki, sehingga ketika semua semua yang mereka miliki itu dimusnahkan, maka mereka tidak punya kekuatan lagi untuk bertahan. Dalam situasi seperti ini manusia berusaha menyelamatkan dirinya dan mencari perlindungan (ay.14). Situasi ini sangatlah menyedihkan, karena semua mereka yang menjadi musuh-Nya akan dimusnahkan, dan setiap orang yang didapati akan ditikam dan mereka yang tertangkap akan mati oleh pedang (ay.15). Ini mengambarkan betapa sadisnya bangsa yang dipakai Tuhan untuk menjalankan murka-Nya itu. Namun tidak dijelaskan siapa musuh di sini dan kota apa yang akan diserang. Mungkin ada hubungannya dengan pasukan tentara yang dikumpulkan di atas gunung, yang diberi komando oleh Tuhan untuk menyerang pintu-pintu para bangsawan (lht. ay.2). Sepertinya pasukan itu terdiri dari orang kafir yang bertindak dengan kebiasaan atau cara kafir juga. Mereka tidak hanya membunuh orang dewasa atau hanya laki-laki saja, tetapi juga perempuan, baik tua atau muda semuanya akan dimusnahkan[26]. Sepertinya mereka yang dimusnahkan itu terdiri atas orang-orang asing, karena dikatakan mereka seperti domba yang kehilangan gembala. Jika kita hubungkan dengan Babel juga tidak salah karena di Babel juga terdiri atas orang-orang asing dari bangsa-bangsa yang telah ditaklukan terutama kaum bangsawan yang diangkut untuk menguasai bangsa-bangsa. Mereka terdiri atas orang pintar, kaya raya dan berkuasa. Namun dalam ayat. 2-16 kita tidak menemukan sebutan Babel sehingga tidak jelas siapa yang dimaksudkan dengan “mereka”. Mungkin yang dimaksudkan dengan “mereka” di sini adalah para pemimpin yang melakukan tindakan ketidakadilan, pemerasan terhadap hak-hak orang lemah, miskin dan tidak berdaya. Mereka hidup dalam kemewahan dari hasil pemerasan yang mereka lakukan, dan mereka menikmati hasil jarahan. Mungkin ini juga menunjuk kepada Asyur yang memeras raja-raja Yehuda, misalnya raja Hizkia mengerat emas di Bait Allah untuk diberikan kepada Asyur.
(e). Yes. 13:17-22 Kebangkitan Madai dan Kehancuran Babel
Mungkin bagian ini berasal dari masa yang lebih kemudian, karena ada kemiripan antara ayat 17 dengan Yer 51:1, Yeh. 23:22 dan Yoel 4:7. Coba kita perhatikan di bawah ini:
hinni meir alehem etmaday Isaiah 13:17
…hinni meir albabel Jeremiah 51:1
…hinni meir Ezekiel 23:22
Dari kalimat di atas memperlihatkan bahwa sebenarnya pemberian judul dengan nama Babel adalah ditambahkan kemudian oleh seorang pengikut Yesanis atau seorang redaktor. Redaktor mengkaitkan nubuatan Yesaya dengan kejatuhan Babel, yang juga mungkin tidak disadari oleh Yesaya ketika ia bernubuat. Yang jelas nabi, bahwa nubuat ini duberitakan nabi untuk menjawab masalah yang terjadi pada masanya. Mulai pada ayat 14 kejatuhan Babel dinubuatkan dan tergenapi pada abad ke-6 tahun 539 sM.[27] Pada abad ke-7 Madai menjadi bangsa yang kuat, Madai juga merupakan bangsa yang kejam dan mereka juga merupakan bangsa yang sudah terlatih dalam berperang. Kekejaman bangsa Madai terlihat pada ayat 15-18. Dikatakan pada ayat 17 bahwa mereka tidak menghiraukan perak dan emas, perasaan dendam yang mendalam membuat mereka tidak bisa disuap dengan perak dan emas yang berlimpah di sana (band. Zef. 1:8). Kekejaman mereka semakin terlihat, yaitu bukan hanya orang dewasa yang dibunuh, melainkan juga bayi-bayi dan anak yang masih di dalam kandungan pun akan dibunuh (Yes.13:18; Am. 1:3; Hos. 14:1; 2Raj. 8:2; 15:16). Babel adalah kota yang permai, kaya raya, di sana terdapat banyak perhiasan yang berlimpah. Tapi semua itu akan diruntuhkan, Babel akan ditunggangbalikan dan nasibnya akan sama seperti Sodom dan Gomora. Kehancurannya tidak disebabkan karena satu peristiwa saja, yakni saat kejatuhannya tahun 539 sM, melainkan disebabkan karena rentetan peristiwa berikutnya. Otto Kaiser juga mengatakan dalam komentarnya, “Interest in the fate of Babylon did not come to an end with the conquest of the city by Cyrus in the yer 539. because Babylon was responsible for the fate of Jerusalem and of the Jews, it became the symbol of the world power hostile to God, and its king became the world ruler who was equally hostile to God”.[28]
Setelah raja Nebukadnezar meninggal Babel mengalami kemerosotan dan itu merupakan saat yang tepat bagi Madai-Persia untuk meluncurkan serangannya. Otto Kaiser melaporkan lagi bahwa mereka takluk dan tanpa ada perlawanan kepada raja Cyrus yang saat itu memerintah Madai-Persia. Kota Babel turun-temurun tidak akan dihuni lagi untuk lamanya, orang Arab[29] tidak akan berkemah di sana dan gembala-gembala tidak akan membiarkan ternaknya berbaring di sana. Betapa menakutkan dan mengerikan, karena yang tidak ada manusia, yang ada hanya binatang gurun, seperti burung hantu, burung-burung unta, jin-jin[30], anjing-anjing hutan dan serigala akan tinggal di sana. Hari Tuhan sungguh amat menakutkan, kapan waktunya? Dikatakan “akan segera” dan tidak akan ditunda-tunda. Di satu pihak hari Tuhan sungguh menakutkan bagi mereka yang melawan Allah. Tapi di pihak lain ini menjadi penghiburan bagi semua orang beriman yang menantikan kemenangan Tuhan dan kemuliaan-Nya atas segala kuasa kejahatan pada hari Tuhan.
V. Kesimpulan Teologis
Kita dari pembahasan di atas kita telah melihat, bahwa dua pristiwa besar yang pernah terjadi di Yerusalem merupakan tindakan Allah yang memilih gunung Zion sebagi tempat-Nya bertahkta dan pemilihan atas dinasti Daud bahwa Allah yang akan secara turun-temurun memerintah Israel (2 Sam.7). Sehingga hal itu juga menjadi jaminan akan keteguhan dan keselamatan. Jelaslah itu merupakan janji Allah kepada umat-Nya dan ketika perjanjian-Nya itu diabaikan, maka keteguhan dan keselamatan yang akan diterima berubah menjadi hukuman. “Ucapan ilahi” pada ayat 1 merupakan penekanan sang nabi, yaitu bahwa pemberitaan yang disampaikannya sungguh-sungguh berasal dari Tuhan. Ketika kerajaan bangsa-bangsa atau seseorang menolak perkataan itu, maka sudah memberi celah terhadap hukuman-Nya. Ayat 2-5, mengambarkan bahwa Tuhan-lah yang mengerakan bangsa asing untuk melaksanakan hukuman-Nya yang dasyat. Ayat 6-13, mengambarkan hukuman Tuhan yang akan dilaksanakan atau dinyatakan pada hari Tuhan yang dasyat untuk memusnahkan seluruh dunia dan orang-orang yang memusuhi-Nya. Pada hari itu Tuhan akan menunjukan kuasa-Nya terhadap kerajaan-kerajaan dunia yang menjadi musuh-Nya. Ayat 14-16, memperlihatkan situasi yang sangat menyedihkan, yaitu di mana orang-orang yang memusuhi-Nya akan dimusnahkan nulai dari yang dewasa sampai yang masih di dalam kandungan pun akan binasakan. Ayat 17-22, menjadi penutup bagian ini. Di dalamnya diperlihatkan bahwa di dalam penghukuman-Nya tidak ada tawar-menawar lagi dan Tuhan tidak dapat disogok dengan kekayaan yang dimiliki oleh mereka yang menjadi musuh-Nya.
Yesaya 13 ini mengambarkan penghukuman Tuhan yang sangat universal, yang menyangkut alam semesta dan segala yang ada di dalam dunia ini sangat erat hubungannya dengan penghukuman lokal seperti yang dialami manusia dalam sejarah. Allah Israel bertakhta di atas segala bangsa-bangsa dan tidak ada yang bisa mengatasi kuasa dan keadilan-Nya. Tuhan sangat membenci kesombongan. Keterlibatan-Nya dalam sejarah dunia ini tidak dapat kita pisahkan dari sejarah kehidupan umat pilihan-Nya. Kerajaan Babel yang mengakhiri sejarah kerajaan Yehuda, yang juga merupakan wakil dari kuasa-kuasa dunia yang melawan kehendak Tuhan dan raja yang memerintah atas Babel merupakan wakil dari raja dunia yang memusuhi Tuhan. Sungguh pemilihan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari hukuman-Nya. Artinya ketika suatu bangsa, atau suatu komunitas tertentu atau seseorang masuk dalam pemilihan-Nya dan iawajib menerima hukuman-Nya ketika tidak setia. Namun sangat sulit untuk memahami mengenai alat yang digunakan Tuhan untuk menghukum. Seperti bangsa Asyur dipakai Tuhan untuk menghukum Israel Utara dan Yehuda, Madai-Persia untuk Babel, dan mereka adalah alat yang dipakai Tuhan untuk menjalankan hukuman-Nya. Ketika mereka melakukan dengan setia dan taat kepada perintah-Nya atau bertindak sesuai dengan rencana-Nya. Maka Tuhan membukakan pintu bagi mereka untuk mengenal Dia. Hidup sebagai umat pilihan ternyata tidaklah cukup dengan hanya ke Bait Allah dan mempersembahkan korban kepada-Nya. Tetapi juga memperhatikan kaum miskin dan orang-orang yang terabaikan, yang tidak dianggap karena mereka tergolong masyarakat lemah dan tidak berdaya. Kenyataan badaniah dan liturgi tidaklah dapat mengantikan moralitas dan keadilan. Allah Mahakudus menginginkan umat-Nya untuk hidup kudus dan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya.
VI. Relevansi
a. Untuk umat saat itu
Dinasti-Nya yang penuh kebenaran, keadilan diputarbalikan menjadi kelaliman dan kebobrokan. Oleh sebab itu, hidup kudus dan setia terhadap perjanjian Tuhan sangatlah diinginkan, memihak pada keadilan, hidup damai, aman sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat Yehuda di Yerusalem. Rakyat merindukan raja-raja tidak lagi memerintah dengan tangan besi, melainkan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, memperhatikan nasib orang yang miskin, lemah, yang tidak berdaya yang sering diabaikan. Sehingga dengan demikian tidak adanya kesenjangan sosial antara orang miskin dan kaya, orang lemah dan kuat. Tetapi justru sebaliknya, yakni hidup berdampingan sebagai umat pilihan Allah yang bersatu.
b. Untuk umat saat ini
Ketidakadilan, penindasan, pemerasan, kesombongan dan perbuatan yang melawan Allah tidak hanya terjadi pada masa Yesaya, tetapi juga terjadi saat ini. Entah itu di Gereja-gereja maupun di luar gereja itu sendiri. Oleh sebab itu, sebagai seorang pemimpin, baik di Gereja maupun diluar gereja hendaklah tetap setia dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai umat pilihan yang takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan atau hidup sebagai umat Allah tidaklah cukup hanya datang ke gereja duduk manis, mengumpulkan persembahan, melipat tangan, kemudian berdoa kepada Tuhan. Melainkan hidup sebagai umat Allah adalah juga memperhatikan dan mengulurkan tangan kepada mereka yang lemah, hidup dalam keadilan, kebenaran, memperhatikan mereka yang terabaikan maupun yang dipandang rendah dalam masyarakat.
KEPUSTAKAAN
Albright, Arkeology and The Relegion Of Israel, 1953.
Barth, C. Teologi Perjanjian Lama-jilid ke-4, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
Barton J., Isaiah 1-39 Old Testament Guides, 1995
Blommendaal J., Pengantar Kepada Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996
Bright John, A History Of Israel-OT. Library, London, SCM Press LTD, 1960.
Browning, W.R.F., Kamus Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.
Clements R. E., The New Century Bible Commentary Isaiah 1-39, Wm. B. Eerdmans Publishing Co, 1980.
Dearman J. Andrew, Religion And Cultural In Ancien Israel, USA: Hendrickson Publishers, 1992.
De Roland Vaux, Ancient Israel – Its Life and Institution,London: Darton, Longman & Todd, 1961.
Dillard Raymond B. and Tremper Longman III, An Introduction To The Old Testament, Zondervan, 1994.
Eichrodt Walther, Theology Of The Old Testament - vol 1, London: SCM Press, 1961.
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid-I, 2004.
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid-II, 2004.
Erlandsson Seth, The Burden Of Babylon – A tudy Of Isaiah 13:2-14:23, Berlingska Boktryckeriet: Coniectanea Biblica- OT-Series 4, 1970.
Fohrer, Introduction To The Old Testament, Abigdon Press, 1968.
Gottwald Norman K, The Hebrew Bible-A Socio-Liteary Introduction, Fortress Press Philadelphia, 1985
Grogan, Geoffrey W., The Expositor’s Bible Commentary, Zondervan Vol. 6, 1986.
Hinson David F., Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004.
Kaiser Otto, Der Prophet Jesaja Kapitel 13-39, Gottingen, 1973.
Kaiser Otto, Isaiah 13-39, A Commentary, London: SCM Press LTD, 1974.
Keil/ Delitzsch, Commentary On The Old Testament-Vol 7/8, Grand Rapids, 1989.
Kinder, Tafsiran Alkitab Masa Kini 2-cetakan ke-3, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/ OMF, 1985.
Noth Martin, The History Of Israel, London, 1960.
Oswalt, John N., The New International Commentary On The Old Testament – The Book Of Iasaiah 1-39, Wm. B. Eerdmands Publishin Company, g 1991.
Rose Glenn, Archeology And Biblical Interpretation, John Knox Press, 1987.
Rowley H.H, The Growth Of The Old Testament, New York: Harper and Row Publisher,1963.
The Interpretr’s Dictionary Of The Bible, New York: Abingdon Press, 1962
Wahono Wismoady, Di Sini Kutemukan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004.
Walton John H., Victor H. Matthews and Mark W. Chavalas, Bible Background Commentary Old Testament, Inter Varity Press, 1978.
Weiden, Wim Van der, MSF. Mgr. I. Suharyo, Pengantar Kitab Suci Perjanjian Lama – LBI, Yogyakarta: Kanisius, 2000.
Westermann Claus, Handbook To The Old Testament, Augsburg: Publishing House, 1976.
Widyapranawa, S.H., Tafsiran Yesaya 13-27, Jakarta: BPK Gunung Mulia,1979/ 1987.
[1] Seth Erlandsson, The Burden Of Babylon – A tudy Of Isaiah 13:2-14:23, Berlingska Boktryckeriet: Coniectanea Biblica- OT-Series 4, 1970, hal 45 (band. John J. Collins Tafsiran Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, hal 524, mengatakan bahwa Yes. 13 ini untuk Babel yang ditaklukan Madai-Persia tahun 540 sM.
[2] Para ahli sepakat menjadikan 13:1 ini sebagai judul besar, yaitu pasal 13-23, yang memuat 10 bagian mengenai massa: “ucapan ilahi”, dan kata ini menjadi sangat penting di sini. Pasal 13:1 juga mempunyai kesamaan dengan pasal 1:1 dan 2:1, sehingga dari keterangan ini memberikan keterangan yang lengkap mengenai isi, sifat dan nama nabi.
[3] Dr. S.H, Widyapranawa, Tafsiran Alkitab Yesaya 13-27, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987, hal 2.
[4] John N. Oswalt, The New International Commentary On The Old Testament – The Book Of Iasaiah 1-39, Wm. B. Eerdmands Publishin Company, g 1991, hal 29.
[5] Sellin-Fohrer, Introduction To The Old Testament, Abigdon Press, 1968, hal 364 (band. Blommendaal 1996: 108-109).
[6] Raymond B. Dillard and Tremper Longman III, An Introduction To The Old Testament, Zondervan, 1994, hal 269).
[7] Raja Ahaz membayar Asyur dengan emas dan perak yang ada di Bait Suci dan raja Ahaz dipaksa untuk membawa praktek-praktek agama Asyur ke dalam Bait Suci di Yerusalem oleh Tiglath-Pileser III, raja Asyur (liht. Wahono, 2004 : 150). Martin Noth, 1960 : 258 mengatakan bahwa nama Tiglath-Pileser adalah diambil alih dari raja Babilonia, yaitu nama dari Pul (band. Erlandsson 1970, hal 163; liht. 2 Raj. 15:19).
[8] Perekonomian, politik, juga dikuasai oleh mereka. Sangat perlu untuk kita catat, bahwa politik luar negeri Yehuda selalu berhubungan erat dengan kebijaksanaan keagamaannya. Dengan kata lain, pemberlakuan kuasa politik Asyur juga pemberlakuan penyembahan dewa-dewa mereka (band. Wahono, 2004 : 150; John Bright, 1960 : 256-257). Norman K. Gottwald dalam bukunya, The Hebrew Bible-A Socio-Liteary Introduction, 1985, hal 377, mengatakan mengatakan bahwa para pemimpin Yehuda hidup hidup dalam ketidakadilan, mereka memeras, menindas rakyatnya, oleh sebab itu berlumuran darah (band. Claus Westermann, 1976 : 136). Selain itu, para pemimpin juga hidup bersinktisme dengan dewa-dewa.
[9] Molokh adalah dewa sembahan bani Amon (1 Raj. 11:7; 2 Raj. 23:10; Yer. 32:35; Im. 18:21; 20:2-5), dewa ini dipercayai sebagai penolong saat mengalami krisis, Mesa raja Moab juga pernah mempersembahkan anaknya kepada Molokh. (liht. Weiden, 2000 : 51; Vriezen, 2006: 236-237).
[10] Wismody Wahono, Di Sini Kutemukan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004, hal 165
[11] John H. Walton, Victor H. Matthews and Mark W. Chavalas, Bible Background Commentary Old Testament, Inter Varity Press, 1978, hal 602 (liht. Wahono, 2004 : 167, dia mengatakan bahwa Asyur “cambuk murka-Nya).
[12] Untuk melepaskan Yehuda dari tangan kekuasaan Asyur, raja Hizkia mulai melakukan reformasi, yaitu pembayaran upeti kepada Asyur dihentikan, melakukan pembaharuan keagamaan serta pemberlakuan keadilan sosial yang lebih nyata dan merata.
[13] David F. Hinson, Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004, hal 185
[14]Seth Erlandsson,…, 1970, hal 163.
[15] Band. Keil/ Delitzsch, Commentary On The OT Vol 7/8, 1989 :295. Ia mengatakan mungkin Yesaya sendiri yang mengabungkannya saat ia menyusun tulisan dan nubuatannya. Namun para teolog modern menolak kalau Yesaya yang menulisnya karena nama Babel. Dan nama Madai pada 13:17, padahal kerajaan ini akan menjadi kuat 200 tahun kemudian, yang kemudian mengalahkan Babel tahun 539 dengan dua kekuatan, yaitu Madai-Persia.
[16] Lihat New Bible Commentary, 1994 : 642, dan jika kita melihat dalam Alkitab, bahwa Babel sering dilambangkan sebagai kerajaan yang melawan Allah, artinya penyebutan Babel di sini hanya sebagai simbol dari kerajaan yang melawan Allah (band. Kej. 11:1-11). Babel adalah simbol kekuasaan duniawi yang melawan Allah dan rajanya sebagai simbol raja dunia yang memusuhi Allah yang harus dimusnahkan (band. Otto Kaiser, 1974 :2).
[17] Jika orang berdosa belum bertobat tidak dapat dikuduskan, dan “kudus” pada ayat 3 sangat sulit untuk dimengerti bahwa orang-orang ini tidak sama dengan orang-orang pada ayat 16. (lih. Kinder, 1985, hal 386). Kita ,melihat di sini adanya hubungan yang erat antara pemilihan dan hukuman. Ketika Israel dipilih Allah sebagai umat-Nya, dengan demikian mereka juga pasti menerima hukuman ketika tidak melakukan kehendak-Nya, karena mereka adalah milik-Nya. Demikianlah juga hal yang sama berlaku untuk bangsa-bangsa non-Israel.
[18] Babel adalah istilah yang digunakan sebagai bangsa yang melawan Tuhan (liht. Ottoi Kaiser, hal 2; John H. Hayes and Stuart A. Irvine, His Time & His Preaching Isaiah-The Eighth-Century Prophet, Abingdon Press Nashville, 1987, hal 224-225.
[19] Michael Keene, Alkitab Sejarah, Proses Terbentuk, dan Pengaruhnya, Yogyakarta: Kanisius 2005 : 21. Mungkin Bangsa Madai dan Persia sering dihalau oleh kerajaan Asyur saat Asyur berkuasa, sehingga tahun 612 baru mereka membalaskan dendam yang sudah terpendam lama, dan Ibu kota Asyur Niniwe menghancurkan oleh Madai-Persia.
[20] Kata helilu dalam hipil imperative (perintah yang sangat penting) dan jika kita bandingkan dengan BGT kata yang digunakan ovlolu,zete dalam bentuk present.
[21] Otto Kaiser, Isaiah 13-39- A Commentary, London: SCM Press LTD, 1974, hal, 15-16
[22] R. E. Clements, The New Century Bible Commentary Isaiah 1-39, Wm. B. Eerdmans Publishing Co, 1980.
[23] Pada bagian ini para ahli sepertinya sedikit mengalami kesulitan untuk menafsirkan dan menterjemahkan kata lehabim. Kata kerja yang dipakai dalam MT adalah lahab yang berarti menyala dan kemudian dihubungkan dengan warna api. Mungkin untuk lebih masuk akal atau logis diterjemahkan dengan “pucat” dengan mengikuti terjemahan Torac Bible Commentary (TBC).
[24] Ahli arkeologi mengatakan bahwa cerita-cerita seperti ini banyak ditemukan di Timur Tengah Kuno, seperti Enuma Elish, Enuma Anu Enlil, yaitu di mana berkumpulnya allah Marduk dewa yang disembah orang Mesir, Asyur, Semit Barat, maupun agama suku-suku Arabia. Mungkin saja certa ini diambil alih oleh nabi Yesaya saat ia menyempaikan nubuatnya kepada bangsa-bangsa non-Israel, yaitu supaya mereka tahu dan mengerti bahwa kuasa Tuhan lebih dari itu.
[25] Ofir adalah nama sebuah tempat yang terkenal sebagai penghasil emas murni terletak di barat daya Arabia di pantai Afrika Timur laut. Emas Ofir juga sering disebut dalam kitab ( 2 Taw. 8:18; Ayub 22:24; 28:16; Maz. 45:9 dan Yes.13:12; 1 Raj. 9:28Maz. 45:10, Ay.28:16. Emas itu diimpor ke Yehuda pada masa Salomo. Selain penghasil emas murni, Ofir juga terkenal sebagai penghasil kayu cendana (1 Raja 10:11), perak, gading (1 Raja 10:22) dan batu-batu permata yang mahal ( 2 Taw. 9:10).
[26] Lihat Geoffrey W. Grogan,..., 1986, hal 102
[27] Otto Kaiser, Der Prophet Jesaja Kapital 13-39; Gottingen 1973, hal 386.
[28] Otto Kaiser, Isaiah 13-39- A Commentary, 1974, hal 2 (band. Walther Eichrodt, vol 1, 1961, hal 378)
[29] Orang Arab adalah suku nomaden yang sudah terbiasa hidup mengembara di padang gurun dan mereka juga terkenal sebagai gembala domba. Suku-suku Arabia kuno percaya juga adanya jin-jin sebagai penghuni padang gurun.
[30] Kata jin-jin pada ayat 21: useirim dari kata syir RSV: there satyrs. Kata ini berarti “kambing jantan” atau “yang berbulu”. Biasanya ini juga diartikan sebagai “jin” yang mengembara di padang gurun dengan wujud yang berbulu menyerupai kambing jantan. Ia suka tinggal di tempat sunyi dan mencari mangsa di antara manusia. Kepercayaan seperti ini adalah diambil alih dari agama Kanaani (band. Otto Kaiser, 1974 : 20), termasuk agama-agama suku Arabia yang sedikit banyak mempengaruhi kehidupan umat Israel. Raja Yerobeam I membangun tempat ibadah kafir dengan simbol kambing jantan dan lembu. Kultus seperti ini dilayani oleh imam-imam khusus (II Taw.11:15) dan Kultus ini kemudian menjadi populer di Israel dan Yehuda (2Raja 23:8). Sehingga kultus ini dilarang Tuhan (Im.17:7)
Langganan:
Postingan (Atom)