Selasa, 09 Februari 2010

BERFILSAFAT: LANGKAH AWAL

BERFILSAFAT: LANGKAH AWAL

Oleh: Sugiman
A. Pendahuluan

Harus diakui bahwa para filsuf tidak mengandalkan metode ilmiah, “dengan demikian mereka harus mengantungkan diri pada cara-cara penelusuran dan pertimbangan rasional lainnya”. Artinya bagi mereka metode ilmiah bukanlah satu-satunya untuk mencari kebenaran, tetapi juga yang lainnya. Oleh sebab itu, ditawarkan sarana-sarana untuk menangani masalah-masalah yang muncul dalam perkenalan pertama kali dengan filsafat. Untuk itu harus kita sikapi dan perlakukan seperti seorang sahabat baik, setahap-demi setahap hingga kita dapat memahami butiran pada setiap bagiannya. Dalam paper ini akan dibahas berfilsafat adalah langkah awal, yang mencakup persiapan untuk berfilsafat, klaim macam apakah yang diajukan? dan apa maksudnya kata kunci?

B. Pembahasan
1. Persiapan untuk berfilsafat
Sebelum berfilsafat, ada beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan.
a. Pertama, ada empat sikap batin untuk mendukung komunikasi secara aktif:
• Memiliki keberanian untuk menguji secara kritis hal-hal yang kita yakini;
• Bersedia membuat atau mengajukan hipotesis-hipotesis tentatif dan memberikan tanggapan awal terhadap perntayaan filsafat;
• Bertujuan untuk mencari kebenaran di atas kepuasan karena “menang” atau kecewa karena “kalah” dalam perdebatan.
• Mampu memisahkan kepribadian seseorang dari materi diskusi.
b. Kedua, berfilsafat adalah keterampilan yang harus dikembangkan dengan praktik, lebih mirip keterampilan seorang ahli bedah atau pembalap daripada kemampuan seorang programer komputer.
c. Ketiga, kita akan serentak belajar filsafat dan berfilsafat. Dengan demikian kita tidak menjadi “tangan kedua”, karena kebiasaan berpikir kritis kita akan membentuk sebuah pemahaman yang menjadi milik pribadi dan tentu tidak dibakukan (terbuka).
d. Keempat, dalam berfilsafat seseorang tidak berpegang pada pendafat sndiri saja.
e. Kelima, jangan mencampuradukan antara berfilsafat secara produktif dan praktik psikologi.
f. Keenam, filsafat memiliki dua sisi, yang kritis dan konstruktif. Untuk itu dibutukan dua alasan: pertama, belajar menganalisis berbagai sudut pandang filsafat orang lain sebelum berspekulasi teoritis sendiri. Kedua, kritik pun dapat bersifat konstuktif. Artinya suatu kerangka pandangan baru akan muncul dengan sendirinya serentak dengan proses analisa yang kita lakukan dengan kritis dan berdisiplin.
g. Ketujuh, sewaktu mengkritisi klaim-klaim filsafat, usahakan mengukur seberapa kuat kritik anda. Dengan kata lain biarkan argumentasi kita yang berbicara, maka ini adalah salah satu latihan yang sangat baik dari pada mencoba meruntuhkan sebuah terori dengan beberapa argumen tertentu yang sebenarnya hanya memerlukan sedikit modifikasi pada teori tersebut.

2. Klaim macam apakah yang diajukan?
Adalah sangat perlu atau penting untuk kita diketahui yang dilakukan oleh para pilsuf. Pertama-tama yang mereka harus lakukan adalah menentukan secara tepat tesis yang diajukan supaya tahu bagaimana mengujinya. Karena kita tidak dapat menilai sebuah karya seni sama dengan menilai suatu hipotesis ilmiah. Oleh sebab itu, berikut akan dijelaskan beberapa macam klaim atau pernyataan:

a. Apakah klaimnya Empiris?
Klaim empiris adalah pengetahuan mencakup keyakinan-keyakinan yang mana kebenaran dan kesalahannya dibuktikan berdasarkan pengalaman. Keyakinan yang didasarkan pada pengalaman ada dua jenis: Yang ditentukan melalui pengalaman langsung atau dengan membuat generalisasi dari data-data yang diamati dan ditentukan melalui percobaan dengan menggunakan hipotesis. Berdasarkan fakta-fakta dari hasil pengamatan atau pencobaan, maka itu juga dikatakan empiris. Namun ada sejumlah klaim, yang bagi para pemula kelihatannya bersifat empiris, tapi ketika diadakan penelitian lebih jauh hal itu tidak dapat dibuktikan. Contohnya “Setiap kejadian memiliki sebab”. Dengan demikian jika tesis “setiap kejadian memiliki sebab” tidak dapat digolongkan sebagai klaim empiris karena tidak dapat dibuktikan.

b. Apakah klaimnya Apriori?
Klaim apriori adalah kebenaran dan kesalahannya tidak ditentukan oleh pengalaman atau eksperimen, melainkan hanya dapat diketahui dengan rasio atau intuisi intelektual. Jadi sifatnya adalah niscaya, yakni berisi keyakinan-keyakinan tentang sesuatu yang pasti atau tidak mungkin. Contoh 2+2 = 4. Keyakinan ini tidak dapat dibuktikan salah oleh pengalaman, dan tidak bisa diubahkan oleh apa yang kita pelajaran sesudahnya. Ada beberapa jenis-jenis klaim spriori:

• Definisi. Salah satu jenis klaim apriori adalah pernyataan yang secara eksplisit menyatakan sebuah makna istilah, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Contoh, “segi tiga memiliki tiga sisi” atau “bujangan adalah laki-laki yang belum menikah”.
• Pernyataan yang kebenarannya (niscayanya) langsung tampak dari makna kata-kata kunci. Misalnya: “tidak mungkin John seorang baptis yang ateis” niscaya benar, ketika kita memahami arti kata “baptis” dan “ateis”. Ini adalah salah satu bentuk lain klaim apriori.
• Tautologi. Ini juga adalah salah satu jenis klaim apriori yang relatif sempit, yang kebenarannya niscaya berkaitan erat dengan bentuk logisnya sendiri atau prinsip-prinsip penyimpulan logis. Apapun muatan yang terkandung di dalamnya, tida ada relevansinya dengan kebenarannya niscaya klaim tersebut. Contoh: “3+3 = 6”, “jika A = B, B = C, maka A = C, dan tanah terdiri dari cacing atau tidak” (P atau bukan P).
• Klaim Apriori Sintetis. Ini adalah salah satu jenis klaim yang khusus, menarik dan kontroversial! Ada empat hal yang perlu diingat tentang klaim apriori sintetis: pertama, seperti klaim-klaim apriori yang lain, yang mana kebenarannya terlepas dari dari pengalaman, yaitu melalui intuisi rasional secara langsung. Kedua, pengingkaran terhadap klaim apriori tidak mengakibatkan kontradiksi-diri, dan karena itu disebut sintesis, bukan analitis. Ketiga, tidak seperti klaim analitis (bersifat analisis), kebenaran niscaya klaim apriori sintetis tidak bergantung pada pada bentuk logis atau kata-kata kuncinya. Dan yang keempat adalah tidak seperti klaim analitis, klaim apriori sintetis kelihatannya memberikan informasi tentang kenyataan di dunia, bukan sekedar tentang cara kita mendefinisikan kata-kata tertentu.

c. Apakah klaimnya Normatif?
Kita telah melihat klaim empiris dan apriori yang sama-sama menyatakan fakta dan memberikan informasi mengenai apa yang menjadi pokok permasalahannya. Di sinilah letak perbedaannya dengan klaim normatif (“pertimbangan nilai”). Pada hakikatnya, klaim normatif merupakan pedoman sikap dan tingkah laku. Oleh sebab itu, orang yang mengajukan klaim ini ia sebenarnya merekomendasikan tentang suatu sikap atau tindakan tertentu yang diambilnya. Contoh: “Semit adalah orang baik”, “setiap orang harus menjaga dirinya sendiri” dll. Dengan kata lain, klaim normatif adalah mengariskan apa yang seharusnya, bukan sekedar apa yang diyakini.

3. Apa maksudnya kata kunci?
Menjernihkan pengertian adalah salah satu tugas utama para filsuf. Sebelum kita dapat menentukan benar tidaknya dan memadai tidaknya sebuah tesis filsafat, kita harus terlebih dahulu memahami tesis tersebut. Dalam bagian ini akan disajikan dua metode terpenting untuk menjernihkan pengertian.

A. Contoh model dan contoh perbatasan
• Contoh model dapat berperan strategis dalam upaya menjernihkan suatu pengertian. Contoh model menggambarkan makna yang esensial dari suatu konsep. Misalnya, Martin Luther King adalah model dari konsep tentang tokoh pembela hak-hak sipil kulit hitam yang anti kekerasan. Contoh model sering berfungsi sebagai titik tolak untuk menjernihkan suatu konsep. Hal ini dapat dilakukan dengan mendefinisikan ciri-ciri pokoknya, dan dari ciri-ciri itulah kita dapat menyusun definisi yang baik. Di samping sebagai titik tolak perumusan, contoh model juga berfungsi sebagai pasak penguat bagi sebuah definisi.
• Contoh perbatasan digunakan untuk menegaskan batas-batas kemungkinan penerapan sebuah konsep. Contoh perbatasan sangatlah membantu kita ketika kita ragu-ragu mengenai jangkauan atau cakupan suatu konsep walaupun kita mengetahui makna intinya. Kadang-kadang contoh perbatasan perlu diciptakan jika memang tidak ada contoh kasus yang nyata.



B. Menguji definisi
Strategi kedua untuk menjernihkan pengertian, yakni mengembangkan definisi yang memadai. Menguji suatu definisi (konotatif) banyak bergantung pada jenis definisinya. Meskipun ada berbagai macam definisi, kita hanya memusatkan perhatian pada tiga jenis, yaitu:
• Definisi refortif menyatakan makna (atau makna-makna) suatu konsep menurut pemakaiannya dalam bahasa kita. Definisi ini memberikan apa yang secara umum dipahami sebagai makna dari konsep tertentu. Sebuah definisi dapat tetap disebut refortif meskipun menguraikan istilah teknis dan khusus yang umumnya hanya dipahami oleh kalangan tertentu. Dalam mendefinisi sebuah konsep, kita menyatakan ciri-ciri pokok yang harus dimiliki oleh sesuatu agar dapat menjadi contoh bagi konsep yang dimaksud.

Ada sebuah cara sederhana untuk menilai memadai tidaknya suatu definisi refortif, yaitu “contoh-balik”. Contoh ini adalah sebuah fakta yang dianggap membuktikan kesalahan suatu klaim, dalam hal ini klaim definisi.

• Definisi reformatif bertujuan memperbaiki definisi yang sudah ada, dengan maksud memberikan penjelasan yang lebih baik mengenai makna dari konsep yang dipersoalkan. Orang yang mengajukan definisi reformatif tidak terlalu mempedulikan bagaimana pemahaman orang lain, melainkan lebih menekankan kebenaran persoalannya. Namun, soal benarnya definisi tersebut harus diuji berdasarkan alasan-alasan yang diajukan. Kadangkala definisi reformatif hanya lebih menekankan salah satu makna yang lain.

• Definini stipulatif adalah definisi yang tidak sekedar memberikan makna yang sudah ada ataupun mencoba memperbaikinya, melainkan memberikan makna pada suatu istilah yang baru pertama kalinya diperkenalkan atau memberikan makna baru bagi suatu istilah lama. Secara umum, kita tidak dapat secara langsung mendukung ataupun menentang sebuah definisi stipulatif, selain memastikan apakah definisi itu menyampaikan maksud pengarangnya dengan jelas, karena memang tidak ada patokan untuk menguji sejauh mana definisi ini memadai atau tidak. Definisi ini tidak benar atau salah. Ia harus dilihat, seringkali dalam konteknya yang utuh, lebih sebagai suatu usulan yang mungkin memiliki kegunaan tertentu.

C. Kesimpulan
Dalam pencarian kebenaran metode ilmiah bukanlah satu-satunya, tetapi juga bisa menggunakan cara-cara penelusuran dan pertimbangan rasional lainnya”. Namun jangan bersikap seperti melihat seekor macan di hutan yang sedang kelaparan, tetapi perlakukan seperti seorang sahabat baik, bacalah hingga mendapat gambaran umum untuk memahami butir-butir pokoknya, tentu juga dengan bimbingan orang lain yang sudah akrab bergaul dengannya. Asalkan tidak berharap untuk sukses secara instan dalam strategi berpikir kritis. Pertama-tama, bacalah hingga mendapat gambaran umum mengenai butir-butir pokoknya. Kemudian diperlukan juga seorang pembimbing dan jangan berharap untuk sukses secara instan dalam strategi berpikir kritis. Karena bagian ini hanya sebagai langkah awal yang membantu dalam berfilsafat.

Sebelum berfilsafat, ada empat sikap batin yang perlu diperhatikan untuk mendukung komunikasi secara aktif: memiliki keberanian untuk menguji secara kritis hal-hal yang kita yakini; bersedia membuat hipotesis-hipotesis tentatif dan memberikan tanggapan awal terhadap perntayaan filsafat; bertujuan untuk mencari kebenaran di atas kepuasan karena “menang” atau kecewa karena “kalah” dalam perdebatan serta mampu memisahkan kepribadian seseorang dari materi diskusi.

Berfilsafat merupakan keterampilan yang harus dikembangkan dengan praktik, membiasakan diri berpikir kritis sehingga tidak menjadi “tangan kedua”. Ia tidak berpegang pada pendapat sendiri; tidak mencampuradukan antara berfilsafat secara produktif dan praktik psikologi; filsafat memiliki dua sisi, yang kritis dan konstruktif. Adalah penting untuk diperhatikan juga sebagai langkah awal berfilsafat bahwa dalam menanggapi klaim-klaim filsafat dengan membiarkan argumentasi kita yang berbicara.

Dalam berfilsafat kita tidak bisa memberkan penilaian yang sama kepada karya seni dan hipotesis ilmiah. Oleh sebab itu, seperti telah dijelaskan di atas, bahwa klaim seperti apa yang diajukan, yang diantaranya mencakup klaim empiris: pengetahuan mencakup keyakinan-keyakinan yang mana kebenaran dan kesalahannya dibuktikan berdasarkan pengalaman; klaim apriori: kebenaran dan kesalahannya tidak ditentukan oleh pengalaman atau eksperimen, melainkan hanya dapat diketahui dengan rasio atau intuisi intelektual; dan klaim normatif adalah klaim yang pada hakikatnya mengariskan apa yang seharusnya, bukan sekedar apa yang diyakini.

Yang terakhir adalah memperhatikan kata-kata kunci seperti: Contoh model yang dapat berperan strategis dalam upaya menjernihkan suatu pengertian; Contoh perbatasan yang digunakan untuk menegaskan batas-batas kemungkinan penerapan sebuah konsep. Yang terakhir adalah menguji definisi-definisi demi kebenaran baki itu definisi refortif yang menyatakan makna suatu konsep menurut pemakaiannya dalam bahasa kita, selanjutnya definisi reformatif yang bertujuan memperbaiki definisi yang sudah ada, dengan maksud memberikan penjelasan yang lebih baik mengenai makna dari konsep yang dipersoalkan , dan definini stipulatif yaitu definisi yang tidak sekedar memberikan makna yang sudah ada ataupun mencoba memperbaikinya, melainkan memberikan makna pada suatu istilah yang baru pertama kalinya diperkenalkan atau memberikan makna baru bagi suatu istilah lama.

Keterampilan dan pemahaman kita akan berkembang ketika membiasakan diri dengan berlatih dalam menerapkan dan mengajikan pertanyaan-pertanyaan kritis pada persoalan-persoalan tertentu demi sebuah kebenaran itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar